Narwastu – Dari Sir sampai Tajali – Gumam Laut – Kumandang Deru Laut

Karya . Dikliping tanggal 13 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Narwastu 

apakah itu rambutmu yang berkibar 
disisir angin timur 
hingga aku teringat sulur sulur melambai 
di rumpun belukar 
yang dikerumun sekelumit andai 
di lembah pencarian tersamar 
bayang diri menjura 
dalam tualang risau usia 
aku hirup aroma yang memanggil tarian 
lingkar gerak menghisap keberadaanku 
yang linglung di ujung panggung 
seperti berharap ada perjamuan 
di keluasan alam terbuka
di padang padang rumput menyala 
sembari menambatkan langkah senja 
mendekat dan menghamburkan dekap 
adalah kejumudanku dalam meraba 
pusaran elegi pada putaran jam 
yang bergumam lirih menahan perih 
waktu tersangkut jejarum tafsir 
dari sepetir penglihatan yang ledak 
terikut kata kata mendesak 
belum tertapakkan juga irama 
karena cuaca meliburkan keberanianku 
untuk menerjemahkan isyarat 
yang dikirimkan tangan gaib 
hingga aku pun termangu kelu 
dan tak tahu mesti bertanya kepada siapa 
sampai kurasakan ada helai sepoi 
apakah itu benar kibaran rambutmu 
yang kini mulai melingkari leherku 
Jakarta, 2015 

Dari Sir sampai Tajali 

kau mendengar alun napasmu sendiri yang lirih 
seperti mengangkut serimba hayat, imaji rintih 
mendaki bukit wingit yang begitu sepi 
bersama kesendirian yang makin lesi 
kau mencari yang masih tersembunyi 
di balik lipatan kabut di puncak sunyi 
dan rimbunan alamat belum tertakwilkan 
meski telah dirapalkan mantra penyingkapan 
rindu yang kaukandung dalam jantung 
bergolak berontak hendak keluar menjelma laung 
menjadi darah mengalirkan nada dalam nadi 
rekah gerak sepanjang usia, nyanyian budi 
Jakarta, 2015 

Gumam Laut 

hempasan ombak menyerbu ke dada karang 
tempiasnya menjelma jemari gerimis 
menjamah tubuhku, hingga aku terpelanting 
ke dalam bayang luka dan remang 
ingatan menyerpih diri, dalam rinai kepingan usia 
menyasar kiblat, mencari alamat tuhan 
deru angin bertandang bertubi seperti menyeru 
kepada napasku, hendak ke mana arah 
kemurnian pijar di dalam darah 
ketika menyebut sebuah nama dengan perlahan 
dilimbur detak, berganti suar kasar dan lembut 
berguncang dalam hambur helaan tangan nafsu 
sendirian, aku berjalan pada penempuhan 
dari tepian ke tepian, mengimani debur pusaran 
menakzimkan tanya yang tua pada kegaiban desir 
dengan waktu yang terus dikuliti musim musim 
sumir 
sementara doa serupa seorang musafir lusuh 
yang datang samar samar dari tempat terjauh 
Jakarta, 2015 

Kumandang Deru Laut 

seperti ada berbagai nyanyian yang berbaris 
datang dari palung laut kesunyian 
dengan partitur golak yang panjang 
membangunkan pantai yang tertidur 
dengan mimpi kerlip kota kekinian 
iramanya terus mengurapi mimik langit 
dan membaluri punggung kenangan 
bersama cercah tatapan matahari 
yang temaram mengusapi cuaca 
dilingkup bongkah bongkah awan senja 
terasa kumandangnya mendekat-menjauh 
mengantarkan panorama sebuah perahu 
di tengah keluasan arus kemungkinan 
mengayuh kata dari ombak ke ombak 
mencatat suara suara ke lubuk diam 
senja makin menyusup ke peluk kelam, namun 
masih terdengar suara burung laut yang beterbangan 
juga tersisa ribuan alun gema 
lagu lagu yang menaungi para pelaut 
dari pertempuran ke pertempuran 
Jakarta, 2015 
Budhi Setyawan, lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 9 Agustus 1969. Berkegiatan di Sastra Reboan Jakarta dan Forum Sastra Bekasi (FSB). Puisinya dimuat beberapa media massa dan antologi. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Setyawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 13 September 2015