Selatpanjang – Dalam Lipatan Sunyi

Karya . Dikliping tanggal 20 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Selatpanjang 

kami berada di ujung kepalamu, selatpanjang.
tebingtinggi yang menaruh harapan, degup jantung
secepat mesin kempang ketika menyusuri arus
gelombang, ketika sampai di ujung pulau rangsang.
degup jantngpun hilang, selaksa lambaian nyiur
mengangkasa oleh cericit elang laut memekik
membahana

kami berada di tubuhmu. selatanjang.
mencermati tiap jengkal lembut gambut
ketika pijakan kaki oleng oleh lain pikir kita.
namun merambat ke sukma paling dalam.
di mana segala duri dalam lubuk hatimu
tak lagi sekeras masa lalu namun dapat
meramu ke penjuru maju oleh lindap asing
oleh rantauan kaki berpijak.

Baca juga:  Memedi

kami berada di matamu, selatpanjang.
lihatlah tajam tiap jengkal pulaunya. singgasana
datuk bercakak pinggang di tanah merbau.
segala auk menyatu ke segenap rantau sampai
ke siak, bengkalis, dan tumasik, mengusik
peta batin kita bahwa di sana, selatpanjang
mengukir denyut nadi kita dalam lingkup
panjang jarum jam, dalam ruang luas perahu
yang melaju di deras air selat hitam.

(selatpanjang, 2015)


Dalam Lipatan Sunyi

dalam lipatan sunyi, kau menaruh hati:
dendam lama yang terkurung, usut kusut
yang terselubung, lalu menghanyutkannya
tanpa tahu ke mana.

Baca juga:  Sendiri di Jalan Braga

dalam lipatan sunyi, waktu mengurung:
ke dalam relung-relung paling ngilu.
dalam dan ujung, merambat sampai
merekah jantung.

dalam lipatan sunyi, kami hanyut:
melipat diri, mencari celah hanyut.
mencuri celah waktu, melepas ungkap.
tercerabut oleh mimpi, mimpi kelam
yang lain.

(selatpanjang, 2015)



Riki Utami, lahir Pekanbaru 19 Mei 1984. Alumnus FKIP Prodi. Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Selatpanjang, Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Utami
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 20 September 2015