Sinabung – Surat Keterangan Domisili – Rumah Ibu – Iklan – Tenung Kata – Mata Hujan – Langkah (1)

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Sinabung

  – erik sitepu

kabarkanlah, debu gunungmu, sesak yang berteriak, sepan-
jang parit pengungsian. anak lelakimu yang bergumul dalam
kepul. tenda-tenda yang berbaris, menerjang gerimis. namun
engkau sudah terbiasa, bukan? setiap gemuruh yang rapuh.
hujan abu yang menyisa di atap rumahmu. kisahkanlah,
kawan. katakanlah, jika engkau baik-baik saja. setiap kali gu-
nung merenung. dan engkau tergulung dalam waktu. dentum
bunyi yang menembus labirin sunyi. medanmu jadi kumpulan
tanah. cuaca yang panas, sengat keringat, atau jejak orang
yang terus berangkat. menjauhi desa.
kawan, betapa engkau kuat. di liat tanah. bahkan ketika
sinabung terbelah. menanak doa dan air mata, menyimpan
remah ingatan. jika engkau memang lelaki yang perkasa.
teriakan orang yang menunggu remah roti. sementara pagi
selalu mendung, tak nampak cahaya matahari.
tahun demi tahun. sinabung menabung. guntur yang berkabung.
2015


Surat Keterangan Domisili

bukankah telah kuhimpun setiap riwayatmu? agar kau tak
menjadi rayap bagi arsip negara. dengan kerumun data yang
menjejak, mungkin tentang sedikit tanggal kelahirnmu. atau
domisilimu. ah, ya telah kucatat juga engkau dengan segala 
kode dan nomor agar tak sukar melacak. menjadi rambu bagi 
masa lalu. setiap kali identitasmu terbaca di arsip, hanya peng-
galan nama atau sekadar jenis kelamin.
namun aku tak kunjung hapal jalan menuju rumahmu. kelokan
yang panjang, bagi tahun yang rapuh. kerap menganggu,
bahkan saat kutelusuri setiap rekaman peristiwa. saat kau
kembali memasuki kantor, dan menulisi setiap lembar kertas.
menjadi dokumen yang kelak diawetkan.
barangkali aku mesti berkunjung kepadamu. bukan sekadar
mengetahui alamat rumah atau nomor telepon. tapi, bukankah
engkau sibuk. maka hanya namamu yang kekal. menjadi arsip
yang berdebu.
Gondangdia, 2015

Rumah Ibu

narangkali ia sehimpunan doa
yang berkerumun saat bayi
menangisi waktu dan gemar meminum susu
dari payudara yang padat
sementara waktu telah sesak di matanya
ia menua di kalender waktu
menabung dosa
dan tak lagi banyak bercakap
hanya pengap
di pangkal isak
sungguh ia ingin ibu
banyak berkata padanya
bukan hanya sekadar usia
atau insomnia yang meradang di kepalanya

Iklan

perempuan wangi itu melintas di dalam teks yang berjalan. dn
lelaki itu kehabisan ide, dengan cara yang bagaimana bakal tamat untuk membacanya. meski layar masih kelabu dan hujan
menetes dari setiap celah tubuhnya. perempuan seksi itu 
masih saja berkelebat. dan ia cuma mendapatkan denyar
angin yang menyisakan harum rambut dan tubuhnya. ia ter-
pana dengan mata yang tak berkedip.

Tenung Kata

lelaki yang gemar dipanggil penyair itu telahmengunci diri di 
kamar. tengah malam baru saja berkelebat, masih ada
nokturno dingin di jenjang lehernya. sesekali ia merasa kata
menghampirinya dengan raut cemas. dikabarkannya banyak
hal. demikianlah, ia suka sekali tertenung pad akata. meskipun
kata tak pernah punya mantra atau sekadar jampi untuk 
menghipnotisnya. ia seringkali melongo ketika kata memben-
tuk maknanya sendiri yang tak pernah diduga sebelumny. ia
takjub!

Mata Hujan

kau adalah mata hujan. yang kerap tumbuh di sisi pagi. aku
yang terkunci. dipeluk dingin anginmu. menjerat bekas kema-
rau, agar selesai sebaga mantra. bagi masa lalu. bagi kenan-
gan beku. kau adalah mata hujan, yang mengawasi para pene-
duh di seberang jalan. memunguti waktu yang menggelinding.
i setiap tapak langkah. di remah-remah tubuh yang lelah.
hanya suara kota. derum sirine atau suara klakson. denyar
lagu pop yang serak. atau televisi yang menjadi coklat. kau
adalah mata hujan. begitu sendu. menyimpan segala gasal
derita. di jemuran pakaian lembab yang apak. di dinding kamar
yang buram. namun kau kembali sebagai embun yang 
berkerumun di pangkal mataku.
yang sembuh
lalu berharap sembunyi
dari kata abadi

Langkah (1)

mulanya ia tak pernah percaya pada jalan lama. pernah ia lalui
penuh lubang dan lumpur. sekalipun hujan tak turun. tapi ia 
terus melangkah. menuju sobekan peta, yang ia lipa di ransel-
nya. cuma kepak angin menerpa bahu, bersitatap dengan 
orang-orang yang tak pernah menyapa. mungkin ia lupa, ini
langkah yang ke berapa. bahkan ketika gambar rumah menan-
cap di benaknya. ia tahu kapan mesti pulang.
Alexander Robert Nainggolan: lahir di Jakarta, 16 Januari 1982, sarjana FE Unila, tinggal di Taman Royal 3 Cluster Edelweiss 10 Poris Plawad Cipondoh Kota Tangerang Banten.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alexander Robert Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 27 September 2015