Surat untuk Ayah – Tengah Malam – Tentang Pemuda

Karya . Dikliping tanggal 6 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Surat untuk Ayah

Ayah…
Apakah kau melihat sawah yang setiap hari semakin mengering
Dan padi-padi kuning menjadi semakin belukar
Sementara traktor-traktor yang dulu terlihat gagah memutari sawah kita,
Kini merenung menggigil berharap karat pada tubuhnya mengelupas satu demi satu
Sementara para petani sibuk mengurus ujian menjadi pegawai negeri karena katanya itu lebih
menjanjikan

Ayah..
Tidakkah kau lihat sawah kita kini hanya lumpur dengan lintah dan pacet yang terperangkap
bahkan tikuspun kelaparan di sawah kita.

Hamparan sawah yang dulu menghampar kuning kini meranggas dan terlihat menakutkan
Dulu para ibu selalu menitipkan para bayi pada padi yang mulai menguning
Dan kau beserta ayah-ayah yang lain selalu menghias padi kita dengan senyum dan tawa
Tapi sekarang lihatlah ayah….
Para ibu tidak lagi menitipkan bayi pada rimbun pepadi yang menguning
Karena memang tidak ada lagi rimbun padi yang layak dijadikan ribaan.
Sementara para ayah lebih memilih menghabiskan waktu bermain judi dan berbicara politik
yang bahkan tidak mereka pahami
Dan aku..
Aku menulis pesan ini dan berpura-pura sedih saat menulisnya,
Semoga kau berpura-pura bahagia membacanya

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (21)

Rawamangun, 11 Maret 2012

Tengah Malam

Seorang ibu memegang belati
hendak membunuh ayam jantan milik tetangga agar pagi tidak tiba

Jangan pagi,
Sebelum padi yang ditanam tadi siang menjadi beras-beras wangi
Jangan pagi
Sebelum rentenir berakhir hidupnya
Jangan pagi
Aku bahkan tidak punya uang untuk ongkosmu ke sekolah hari ini.

Tentang Pemuda 

Pagi tadi,
seorang pemuda pasar berkelahi dengan preman lainnya.
Bersenjatakan golok di tangan kanan dan balok di tangan kiri..
Satu orang lawannya rebah dengan darah mengusur di sekujur tubuh

Baca juga:  Marlina

Siang ini,
dia memasuki altar dan berdoa memohon pengampun dosa
sambil menangis tersedu-sedu ia mengakui semua kesalahan

Sore hari,
dia kembali ke pasar untuk meminta uang keamanan pada pedagang setempat
dan

Malah hari,
Dia tidur di ribaan ibunya

Pada bulan Januari 2012

Tentang Seorang Anak yang Ingin Menjadi Penulis Besar yang Sedang Diam tak Punya Ide pada Sebuah Kamar yang Sepi

Sebentar terdiam
Sebentar tersenyum
Sebentar Menulis
Sebentar meracau
Sebentar mengkhayati
Sebentar minum kopi
dan sebentar tertidur
“Nak, bangun ini sudah pagi kau harus sekolah, sudah mengerjakan PR belum?”
Lalu terkentut

Baca juga:  Kepada Ibu - Rindu Dendam - Keberangkatan - Isyarat - Hujan Dini Hari - Bintang Jatuh - Sajadah - Titik

2011


Sumihar Deny, saat ini aktif sebagai pengajar bahasa Indonesia di SMAK Tunas Bangsa Sunter dan juga sebagai ketua umum Bengkel Sastra Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sumihar Deny 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 6 September 2015