Wirid Simsalabim

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Simsalabim
Mudahkanlah surga untuk orang Jakarta
Kabulkan abrakadabra

Baliho habib
Tarif pak ustad
Angkatlah ke tempat yang lebih tinggi dari emas tugu Monas
Gantunglah di sana
Jangan dibiarkan jatuh sebelum kali Ciliwung selesai bersuci
Sebelum Senayan yang jorok itu kembali pulih
Dan penghuninya mengerti arti berhati
Berkat simsalabim
Abrakadabra

Segarkanlah Jumat yang jenuh
Timbanglah saldo kami di kotak infaq yang selalu penuh
Yang menitip doa
Yang menitip zikir
Tambahkanlah bilangannya
Dahulukan yang paling ijabah
Wabilkhusus yang paling banyak menyumbang
marmar dan tikar permadani
semen baku, kawat besi cor
Yang mengirim berkubik-kubik pasir untuk mencuci
uang kotor
berkat simsalabim
berkat abrakadabra
bangunkan untuk mereka sebuah kubah
di dalam ratib yang sudah ditutup cahayanya

Baca juga:  Penghabisan Riwayat - Ampas Roh

Sebab apakah yang tidak terjadi di Jakarta
Apakah yang tidak bisa
Berkat simsalabim
Kuburan palsu bisa menjadi abrakadabra
Ramai amat pesiarnya
Besar sangat pemasukannya
Sampai-sampai orang bertakbir memuja-muja rezekinya

Adakah yang tidak kukata
Orang membaca Yaa Siin
Aku menahan tawa
Sebab yang kudengar di situ keluh kesah orang pensiun
Yang rugi galas
Yang susah jodoh
Yang kena pecat
Yang mau pangkat
Kini datang memohon ampun

Sebutlah yang belum kubaca
Telunjuk lurus
Kelingking berkait juga

Baca juga:  Sirah Mambang - Parentis Waktu - Suara Kesunyian, 1998

Maka kabulkanlah abrakadabra
Bebaskan kaum hawa dengan sihir dan susuk
Kaum intelek dengan lelucon
Kirimkan mereka cadar tembus pandang

Berkat simsalabim
Berkat abrakadabra

2015

Riki Dhamparan Putra lahir 1 Juli 1975 di Talamau, Sumatera Barat. Buku kumpulan puisinya yang terbaru adalah Mencari Kubur Baridin (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Dhamparan Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 27 September 2015