Anglocita Nasuada – Seketul dari Swahili Medium

Karya . Dikliping tanggal 4 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Anglocita Nasuada

-bagi si Koleris HF

Kita bertemu di bawah pohon diri yang tua oleh luka dan air mata, di bawah keasingan yang
teramat sering kita siangi, kau kehabisan cinta dari garba bunda, aku kehabisan rincu dari rahim
Ibu, kau membenci ayah yang kian menjauh, aku mengunci ayah yang kian tak tersentuh.

Hidup adalah teka-teki redup di dalam laci, ketika kau buka seribu leci membuatmu, mencaci
maki, entah bagai mana sayang ketinggian dengki masih sudi kita daki, padahal daki-daki
keperihan tak kunjung guyur tiap kita mandi ke nadi-nadi.

Baca juga:  Gunung Prahu - Kisah - Isyarat Angin - Menjadi Tulang Rusukmu - Ekstase

Katakan, dapatkah kita belah sembilan bulan yang pernah diperam ibu dengan erang dalam diam,
dapatkah kita remukkan jam yang membuat ayah tersuruk kantuk siang malam, jauh ketika
pertama kali kita dirancang untuk mengenakan kefanaan dunia.

Maka sayang, mari makan nubuah di atas makam, lihat ayahku yang suburkan sunyi di atas batu-
batu bumi, setelah kenyang mari kita jenguk ayahmu di pembaringan, jangan-jangan cemas ia
bawa ke dalam impian.

Kita memiliki rindu, seluas kaldu di rendaman kalbu ibu, kita punya hasta cinta yang tak mungkin
terbakar. Jika kita hanya sekali merasa terbiar.

Baca juga:  Kasihanilah Mereka, Maryam!

Bagiku yang terjauh adalah sauh-sauh ruh, ketika tak dapat kita renangi renungan mahadiri,
kenapa kita manusia bermula dari kejatuhan dari surga?

24 Febryan 2015

Seketul dari Swahili Medium

Mata kutinggalkan, Hati kubawa. Kaki kuajari doa.
Dan tangan berpayung langit.
Bunga bangkai mekar di hidungku yang ungu.
Kematian kupeluk di pelupuk. Seintim ragu kusemat sami’i
ke liang kiri telinga.
Kitab-kitab Talimut dibuka. Warna kulit terbakar.
Garis bibir serupa Arizona. Gigi memagar kawat semesta.
Muncul makhluk, kerdil dan gemuk. Menjelma api.
Berbentuk ular kawah bumi.
Keyakinan mengerang. Kelamin rasuk ke kelam tulang.
Bubuk-bubuk harapan.

Baca juga:  Bendera

Menyemerbak lunta angin.

Veo-Hamats 2015


Muhammad Asqaiani eNeSTa, kelahiran Huta Paringgonan, 25 Mei 1998. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Seorang guru. Menulis cerpen dan puisi. Belajar dan Mengajar di Community Pena Terbang (COMPETER) Session 3.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Asqaiani eNeSTa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 4 Oktober 2015