Ayat-ayat Penasaran – Kutukan Asmara – Kulukis Tubuhmu dalam Bayang-bayang

Karya . Dikliping tanggal 25 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Ayat-ayat Penasaran

1.

Letakkanlah tanganmu di sini
Sebentar lagi ayo kita tuliskan cerita
Atau kita membuat bangunan bangunan kecil dari mimpi

2.

Waktu kita hanya sebentar, cepatlah
Karena malam tak cukup dalam menuntaskan pensaran

3.

Kau datang dari alamat yang tak kukenal
Tapi mengapa aku betah tinggal di sini bersamamu
Kau berbicara dari suku yang sulit kumengerti
Tapi bicaramu tlah mengguncankan hatiku

4.

Bersama dengan gerimis di pojok sunyi
Kau tlah berhasil membuatkan taman di dalam hati
Seperti rintik air yang berjatuhan
Bersamamu aku merasakan kesejukan

5.

Sebelum pagi sempurna
Cepatlah berikan tanganmu sekali lagi
Kita hanya berdua malam ini
Tak ada siapa-siapa

6.

Insan insan yang lain lenyap dengan kebosanan
Di bawah lampion temaram yang kita ciptakan
Tuhan kita memberkati malam yang indah
Penuh dengan kejutan kejutan

7.

Waktu, tak sepenuhnya sama
Hanya ada satu kesempatan
Untuk kita bersama, di sini!

8.

Alamatmu tak kutahu
Bicaramu tak kumengerti
Kita sama bercakap dengan bisu
Tapi toh kita bukan seseorang yang tuli

9.

Di keharibaan malam
Kau sungguh membuatku penasaran
Degub jantungku bukan lagi milikku

10.

Sampai kapan kita akan membisu?
Sebelum malam tuntas, dan pagi lepas
Ayo kita berantas kesepian yang kita cipta

11.

Berikanlah tanganmu
Ayo kita eja pekerjaan yang lain
Membuat taman sudah
Mungkin yang lainnya?
Tak ada salahnya untuk kita coba.
Surabaya 2015

Kutukan Asmara

1. 

Hanya di balik pintu aku berteriak sebagai lelaki
Di depanmu aku tak ubahnya seperti batu
Dan tak selincah air dengan riaknya

2.

Kau pasti tahu dan akan mengerti
Sebab sedari tadi
Bukankah kita saling menggelisahkan diri masing masing?

3.

Kau, dan begitu pun aku
Kita takut untuk memulai sesuatu

4. 

Hanya di balik pintu
Ternyata kita saling membodohi diri, menipu diri
Dari asmara yang terus berteriak kencang di dalam hati

5.

Dan tentang asmara ini
Masih seperti batu.

Kulukis Tubuhmu dalam Bayang-bayang

1. 

Di perlintasan waktu yang singkat ini
Aku dapat melukis seingatku
Wajahku, rambutku, sela bibirmu bahkan lekuk tubuhmu

2. 

Namun itu semua bukan di alam nyata
Aku tak kuasa mengenalmu seutuhnya
Sikapmu, lembut sapamu, atau bahkan kesetiaanmu
Mungkinkah sama seperti  di dalam kepala?

3.

Seketika saja lukisan itu menghilang terhapus oleh bayang
bayang lainnya
Dan sukar kukanvas lag
Aku melihat sikapmu di depan kepala
Dan ternyata 
Caramu berbicara, tingkahmu melepas amarah
Tak kutemukan dalam bayang bayang lembut di kepala
rambutmu, bibirmu, lekuk tubuhmu kini menghilang
dihempas
Bayang bayang lainnya.
Ach Faridatul Akbar: kelahiran Sumenep
Mahasiswa UJB Yogya.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ach Faridatul Akbar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 25 Oktober 2015