Bagaimana Jika – Pagimu dan Stasiun – Satu Mingguan

Karya . Dikliping tanggal 11 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Bagaimana Jika

Bagaimana jika,
samar adalah jelas yang menyamar?

Bagaimana jika,
lalu adalah kini yang terlalu?
dan, nanti ialah sekarang yang menanti?

Bagaimana jika,
soal adalah jawab yang menyoal?

Bagaimana jika,
ampas adalah daging-daging pikiran yang terampas?

Bagaimana jika,
hewan adalah manusia yang hewani?

Bagaimana jika,
manusia adalah hewan yang manusiawi?
Jika indiividu adalah kelompok yang individualis

Lantas bagaimana jika,
aku adalah kamu yang mengaku?

Bagaimana jika…
tanyaku habis dihabiskan tanya?

Baca juga:  Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (3)

Bandung, 8 Maret 2015


Pagimu dan Stasiun

Pagi yang kaubuka dengan manusia-manusia pagi
dari bangku stasiun tempat kau bermalam
melihat yang bisa begitu lelap,
oleh sebab telah berkawan dengan keramik dan koran
sama hangat dan empuk,
seperti awan-awan nirwana

Kaubuka pagimu dengan doa
sujud bersama mereka yang hendak
berterimakasih atas dingin yang sehangat angin malam
atas tirai-tirai hujan sepanjang malam
atas malam berselimut debu-debu jalanan
atas ada-tidak deru yang silih berganti

Baca juga:  Juru Kunci

Bandung, 2 Maret 2015


Satu Mingguan

Aku,
mencari koran Minggu
di pasar Senen,
suatu hari Selasa,
dan menemukannya di hari rabu
Adalah padanya, sajak Kamis-an,
yang digubah pada sbeuah Jumat
oleh penyair yang bacakan puisi nanti Sabtu

Bandung, 7 Maret 2015
10.55WIB




Kelsi Sawitri, mahasiswi semester 8 di jurusan Fisika ITB

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kelsi Sawitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 11 Oktober 2015

Baca juga:  Pada Hari Minggu Kuturut Kamu ke Kota