Bermain Peran – Temu Warga – Jembatan Kata – Surat Putih

Karya . Dikliping tanggal 18 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Bermain Peran

Menjadi ibu erte dalam lakon Hansip dan dan Beberapa Masalahnya[1],
aku tersesat pada alur kemabukan. Di sini, semuanya lintah yang
terjebak kebutuhan. Mengagungkan haji dermawan. Tak peduli
kawan. Tak peduli lawan. Tak peduli pasangan. Tapi merampok
bersama sudah jadi budaya nyata dalam hidup bertetangga. Pandangi
Indonesia dari sisi penyakit yang ssudah membudaya, ada
banyak keluarga yang tak peduli lagi mana nafkah haram dan halal,
sing penting:
     Kenyang!

Baca juga:  Suryoputran, Pedalaman Rindu - Hari-Hari Berpacu di Minggiran - Parangkusumo, Memanah Cakrawala - Di Bintaran Ada Percakapan

2015


[1] lakon drama karya: Bode Riswandi

Temu Warga

Di atas panggung, peranku jadi seorang gadis yang ditodong, ada
genang kenangan yang mengendap dalam kisah hidupku. Dulu, aku
belajar mengayuh sepeda dalam asuhan matahari. Di tepi kuburmu,
semua rindu tercurah. Dalam kesendirianku, tak pernah bosan kupandangi
gambarmu yang dibalut doaku, untukmu
Bapak!

2015

Jembatan Kata

Belajar berbicara dalam paparkan asupan ilmu, daya tubuh mendadak
lemas. Di ruang hati, tangan terjadi perang yang hanya kuketahui
sendiri. Sadar pada satu hal, tak cukup bekal dalam
Materi.

Baca juga:  Cisangkuy - Angin di Sini - Childlike

2015

Surat Putih

Ibu, izinkanku untuk lebih jauh mengenal hidup dan kehidupan. Aku
ingin berenang dalam gelombang menyempurnakan ibadah, biar
semua waktuku tak banyak tersia. Biar sisa usiaku tak ada yang
terpelanting ke jurang
Maksiat.



Mataya Sutiragen, mahasiswi Universitas Siliwangi Tasikmalaya, pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif dan bergiat di beberapa komunitas teater dan sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mataya Sutiragen
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 18 Oktober 2015