Catatan Kematian – Elegi Airmata – Mencintai Burung-Burung – Zaman Edan – Aku Milik Siapa? – Aku Suka

Karya . Dikliping tanggal 4 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Catatan Kematian 

Ini kabar kematian yang kau lupakan ;
Ia tertidur membunuh perasaannya dengan sebilah kepalsuan
Setelah pikirannya dikuasai kejumawaan
Tak ada manusia kekal di dalam pencarian
Saat mimpi tinggal igauan menyesatkan kata
Ibu yang melahirkan pun sengsara dilupa
Dan air susunya mendidih, beku
Menyerupai jiwa yang dirajam
Saat ada suara menghiba
Airmatanya bergulir di jatungmu
Dan rintihnya yang pilu penuh iba
Lalu menadahkan tangannya, tersayat
Pisau tajam yang bersarang di jiwamu
Ia bukan lagi manusia
Kau memang telah hilang ;
Setelah cinta dikalahkan nafsu
Di setiap jejak pencarianmu yang banal
Doa, airmata dan keringat kering di matamu
Menggumpal keras meleleh sakit di pijar cahaya abadimu.
Kudus, 08 September 2015

Elegi Airmata 

Merdeka! Makan pagi, makan siang
Dan makan malam lalu anak-anak tidur bermimpi
Kehilangan negeri sendiri
Airmata menetes, meratap di kibaran merah putih
Dalam wajah angkuh kekuasaan
: Aku menatapnya di atas bebatuan
zaman tersayat kemunafikan.
Kudus, 19 Agustus 2015

Mencintai Burung-Burung 

Di hutan tinggal pohon-pohon plastik
Menyisakan rintih angin di nafasmu
Di sini, burung-burung pergi ketakutan
Mendengar suara gergaji
”Kemana burung-burung itu pergi?” tanya anak-anak zaman
Wajahmu pucat melihat bayang-bayang sendiri
Kudus, 20 Agustus 2015

Zaman Edan

Ini zaman edan!, kata jam dinding di kamar hotel
Menyaksikan seorang kakek berduaan
dengan seorang wanita
Mereka saling bercumbu melukai usianya
Harga diri lebih terhomat kenikmatan sementara!
Pencarian di sini tanpa peta :
Orang mudah melupakan kelahirannya sendiri
Bayang-bayang menjadi sayapnya,
lalu terbang meluka langit
Rintik gerimis terasa perih di urat nadi
Ini zaman edan!, keluh air warnanya coklat
ditinggalkan pohon-pohon
Ketika sungai menampung bayang-bayang
dan tanah membatu di pelataran
Anak-anak tidak bisa bermain ombak sodor,
petak umpet, matanya kosong
Dibiarkan orang tuanya yang mengejar mimpi kepalsuan
Sulit menemukan cinta, dan pencarian kehilangan peta!
Ini zaman edan!, geram buku yang tergeletak kaku di mejamu
Setelah segelas kopi menyisakan sebait puisi
mengabarkan kematian
Lalu tak mengenal Tuhan.
Kudus, 12 September 2015

Aku Milik Siapa? 

Aku milik siapa?
Di ujung senja banyak kota merampas kata dari mulutku
Sampai lidahku kaku, dan mataku berkunang-kunang
setiap melihat kebenaran
Menyerupai iklan yang diusung kebohongan-kebohongan
Aku milik siapa? Jiwaku lelah dikejar
bayang-bayang yang datang dari segala penjuru
Jejak angin pun telah kehilangan cinta lalu luruh
di peradaban batu-batu
Aku milik siapa?
Dalam tanya aku rindu kelahiran sendiri
Diriku, negeriku, bahkan Tuhanku
Siapa yang telah mengusirnya?
Kudus, 15 September 2015

Aku Suka

Sejak kecil aku suka hutan
Hawanya sejuk dan banyak pepohonan
Aku tidak takut dengan binatang
Meski tabiatnya buas dan liar
Yang penting harga diriku tak terancam
Sejak kecil aku suka sawah
Tanahnya subur dan banyak tanaman
Aku tidak resah dengan panas maupun hujan
Meski kulitku sampai hitam legam
Yang penting hatiku cahaya Tuhan
Sejak kecil aku suka laut
Airnya berombak dan penuh ikan-ikan
Sebab ombak itu angin dan nafasku
Sebab ikan-ikan itu rejeki dan gairahku
Dalam pengembaraan hidupku
Aku suka!
Kudus, 14 September 2015
Jumari HS, Penyair otodidak, lahir di Kudus, 24 November 1965. Karya puisi dan cerpen terhimpun dalam antologi bersama. Jadi Ketua Teater Djarum, sehari-hari berkerja sebagai supervisor bagian produksi rokok PT Djarum Kudus. Buku puisi tunggalnya berjudul ‘Tembang Tembakau ‘ dan ‘Tentang Jejak Yang Hilang’
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jumari HS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 4 Oktober 2015