Hikayat

Karya . Dikliping tanggal 11 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Hikayat #1

terbawa udara di sela senja
bukanlah cerita yang harus dibaca,
tapi bagaimana langit menjinjit tumit,
mengenalkan kita pada aksara basah.
sebagaimana hikayat di surat,
dalam kitab-kitab segurat kalimat.

sedang kata, masih sama:
belum bisa mengurai makna,
di balik rasa.
hanya suara memercik-mercik
asmara berkilap dosa.
tersingkap sehampar semesta,
menampar-nampar jadi nanar.

itulah riwayat diterjemah,
hingga usia berkalang tanah.
tak kunjung tiba
tak bisa sudah.

2015 

Hikayat #2 

masih disusur-susuri
puting susu ibunya yang ranum.
tanpa muslihat,
cari-cari risik kehidupan
di antara patahan rindu bisu.

tak ada kata berucap,
hanya tanda terus dikais miris.
agar langkah masih terarah,
pada jalan mengarak rasa.

jangan sampai terkecoh
seperti korban politisi
cergas berbasa-basi.
berkelit lidah memilin luka,
melilit darah.

Baca juga:  Potret Kehidupan dalam Bumi

sebab keberuntungan dan sial,
setipis sulah terurai di atas bantal.
mengeriap debu di lentik alis
memicing senyum sebatas bengis.

2015 

Hikayat #3 

musim lagi menyergap.
bukan, bukan musim kawin.
hanya riwayat menyayat sesat,
bersama rima almanak menjerat khianat.

sekali pun penjahat, takut.
apalagi kita rajin berjanji,
namun tak rangkum ditepati.
pastilah mangsa empuk
di pelupuk sengit.

menawar tawar keberuntungan,
di antara peruntungan semu.
beringas tak jadi soal,
kalau tetap sengit mengelak sial.
agar tak ada mata meratap bangkai,
terurai disulur kecut kabut.

berjaga siagalah wahai kita manusia.
sebelum di surat hikayat
pada renta paling nyeri merekahi perih.

Baca juga:  Menjadi Juru Cerita - Terbangun - Tentang Cerita - Jatuh ke Dalam Sepi - Meredup - Biografi Sepanjang Aku - Berbuka Puisi - Pigura masa Lalu

2015 

Hikayat #4 

empat kali hikayat sudah
di surat pada jirus kutuk.
belajarlah dari pengalaman sudah-sudah.

tak perlu mengasah pilu di balik jeruji semu.
apalagi, mawas waswas,
sebab tak ada yang lebih gawat dari duri nafsu.
salah melangkah fatal akibatnya,
khilaf berbuat sesal ganjarannya.

kalau sudah begitu
tak ada guna menebar layar
karena angin sudah berputar
bersama ombak mengeriap karang.
mengirimi buih pada rahang pantai
diiringi cerap lirih asin cakrawala.
dan apabila sampai rangkumnya,
tak perlu tergesa-gesa menyayat angkasa.
jamahlah bilur biru punggungnya dengan pelipur,
niscaya tak lagi terjebak
pada bait lubang godam yang sama:

2015 



Frans Ekodhanto Purba, lahir di Desa Sei Suka Deras, Sumatra Utara, 8 Juli 1986. Karya-karyanya pernah tersiar di berbagai media massa. Buku kumpulan puisi tunggalnya Kelana Anak Rantau (2013). Kini, ia sedang merampungkan buku puisi keduanya, Martumpol. Herman Efriyanto Tanouf, alumnus Seminari Lalian, Atambua, NTT. Karya-karya puisinya termaktub dalam Antologi Puisi Sastrawan NTT (2015). Ia diundang pada Festival Sastra & Temu II Sastrawan NTT 2015 di Ende, Flores. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Frans Ekodhanto Purba
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 11 Oktober 2015