Malam di Lembah – Hutan Belakang Rumah – Dari Segara

Karya . Dikliping tanggal 18 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Malam di Lembah

Pekan yang beku
di Lembah Grizzly

pohon tertidur
jejak kaki pejalan
tertutupi musim

di papan nama
gerbang peternakan
dingin bermain
dengan kata
huruf-huruf pudar
dalam garisnya

apa yang terlihat
sepintas hanya putih
dan senyap

lewat pukul empat
matahari bergegas lenyap
menyusul para kuda
kembali ke kandang

aku memandang ke luar
lewat jendela loteng
di kabin
malam berhembus lekas
seekor kuda
kibaskan ekornya

di balik Lembah Grizzly
terbit bintang utara
penanda arah di gelap raya
rasi purba dan angkasa
serupa langit di kampung halaman
memukau leluhur berabad silam
kisah abadi penjelajah lautan

berapa juta pasang mata
mengamatinya kini
di belahan lain bumi:
nelayan dan perahunya,
pemuja yang mengirim doa,
anak kecil yang meyakini janji
bintang jatuh
atau seorang tua
tersenyum bahagia
mengenang waktu indah
di bawah bulan
sebelum Kala mereguknya

aku tutup jendela
karena dingin yang sangat

kayu-kayu
rekah dan padam
pada perapian

mata coba terpejam

terdengar pinus rubuh
hening salju meluruh
suara kaki pejalan
kuda berlari
di hutan batin

2014-2015

Hutan Belakang Rumah

/1/

Desember lalu
kami jalan ke hutan
lewat belakang rumah
di 11th Avenue

aku panjat pohon kayu
meraba gurat tubuhnya
tumbuh menahun
berkawan cuaca

mungkinkah dibangun pondok
di antara dahan kokoh ini
tempat aku suatu saat bakal kembali
lalu tak sengaja
melihat seekor tupai tertidur di dalamnya
mengigaukan hujan biji-bijian dari angkasa

Baca juga:  Elegi - Fotosintesa - Melati - Gadis, Bunga, Buku, Airmata

Solar dan Luna menyalak
saling bersahutan
               di bawah sana
mencari sarang serangga
barangkali terkubur
di lorong hangat rahasia

aku lompat ke dasar
terhempas di tebal salju
               bulu-bulu halus Luna berlepasan
               melayang lembut di kelopak angin
               di sekeliling evergreen
selamanya hijau
seperti juga pohon waktu

/2/

Kami tiba di satu jembatan
di atas sungai separuh es

aku menengokkan kepala
berharap melihat bayangan diri
tapi terpaku, terlalu takjub
pada tetesan air
yang beku

               di tepi-tepi
sebelum jatuh
                       luruh menyatu dalam arus

“seekor rubah
baru lewat di situ!”
katamu
di atas batang yang rebah
tampak tapak mungil
dibuat sekejap lalu
               menyadarkanku dari deras sungai
di Cau Tua
ingatan masa kanak
di bawah pancuran mata air

/3/

terengah dalam suhu rendah
bibirku kaku berdarah
tanjakan demi tanjakan
terdaki
tak sengaja kusesap luka sendiri

dari tempat terang
ke belukar yang sepi
apa lagi yang menunggu
di seberang situ?

Baca juga:  Ujung Berung - Suara di Kejauhan - Malam di Bandung - Mengurung Murung

adakah pohon-pohon tegar
yang rindu dekapan,
sungai yang menanti musim semi,
atau angin yang ingin kekal
dalam dingin abadi

kami lalu ke Utara
menduga arah selanjutnya
menerka tanda dari pejalan sebelumnya

Solar tiba-tiba berlari
          mendahului
disusul Luna si kecil putih
ingin aku segera berseru:
hei, lari yang jauh!
pilihlah samun paling rimbun
lompatlah sampai terperosok!
lari, larilah sampai tersandung
                                   di ujung
di mana beruang merah
menyimpan panen buah-buahan
pestalah
atau pergi menuju semak lain
tersesat sendiri di situ
bermain sampai petang
hingga tak terkira jalan pulang

ceritakan padaku
apa yang tampak dari puncak
pemandangan bumi di bawahkah?
sarang-sarang manusia yang bagai liliput
di mana kau merasa
seperti Waktu
                                meranggasi musim demi musim

adakah pondok buat si tupai pemimpi
ke negeri mana para serangga mengungsi

aku bersicepat
mengikuti jejaknya
mengejar Solar
memeluk Luna!

/4/

Desember lalu
kami main ke hutan
lewat belakang rumah itu

tamasya dari 11th Avenue
menyusuri jalan-jalan lampau
aku, Solar, Luna dan Kau

2014-2015

Dari Segara

Berjalan dari Segara
ke ujung pura
lewati rute lama
warung ikan, tambatan perahu
bocah-bocah yang berenang
minggu pertama bulan baru

Baca juga:  Puisinya Israel - Di Bibir Kopi

Kulihat dari tanjung
tujuanku tampak jauh
di bawah kabut awan
dan embun lamunan
entah kapan terakhir dulu
berkunjung ke situ

orang-orang sepuh
duduk di batu karang
semadi mandi matahari
atau menangkap kenangan
yang mengapung

tak jauh, di tangga turun ke pantai
sebuah perahu baru berlabuh
ikan-ikan kecil melompat di jaring
ada yang jatuh di pasir
dipunguti para lelaki
yang sejak pagi menanti

kuambil gambar
sekadar merekam pengalaman
menapaki buih ombak
menyentuh buram lengan kapal
terpesona seperti turis wisata

saat tiba di ujung
sadar tak kubawa apa-apa
tiada kain dan gaharu
bunga dan buah persembahan

ziarah tanpa rencana
hanya takjub dan rindu
sambil menatap ke dalam

aku jalan sampai di patung penjaga
lumut yang dulu
makin melekat di situ
seperti remah waktu di saku baju
menyisakan sejeput hitungan
sebelum tanya
kularung ke lautan

2015

Frischa Aswarini lahir pada 17 Oktober 1991. Berkesenian di Komunitas Sahaja, Denpasar.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Frischa Aswarini
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 18 Oktober 2015