Purnama – Pemungut Kata – Percakapan Pohon – Sepotong Bulan – Episode Rindu – Puisi yang Mencari Alamat – Penat Menggenap – Mengemas Segala Cemas

Karya . Dikliping tanggal 4 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Purnama 

: Ni Made Purnamasari

malam khusuk menjaga bulan
desir angin menyisir sunyi
hentikan dengkur para pemimpi
bulan yang tengah hamil tua
sebentar lagi lahirkan purnama

2015 

Pemungut Kata 

: Weni Suryandari 

aku hanya pemungut kata
yang berguguran dari langit
tersembunyi di balik awan
terseret pusaran arus
atau yang tersekap dalam gelap

kubiarkan saja kata tergeletak
kehabisan napas mencari makna
sebab makna, menjadi milik sesiapa
yang ingin singgah pada kata

2015 

Percakapan Pohon 

aku mendengar percakapan pohon
yang terbawa desir angin
dari arah perbukitan
percakapan gelisah membuncah
atas nasib mereka, yang sebentar lagi
berakhir di tangan para penjarah

aku mendengar deru gergaji mesin
menenggelamkan tangisan pohon
yang tak mampu meronta
airmatanya menganak sungai, panjang
berhenti di samping

aku berdiri aku menemukan jejak perompak
dan jejak roda-roda besar
melintas desa-desa, menyelinap ke kota
mengantarkan tumpukan harta
kepada penguasa

Baca juga:  Pesan Air - Kudeta Tubuh

2015 

Sepotong Bulan 

sepotong bulan teriris cakrawala
separuhnya jatuh ke dasar samudera
burung camar mengantar
anak-anaknya pulang ke sarang
senja meranggas kelam
menyimpan sunyi paling rahasia
malam seperti berpaling

2014 

Puisi yang Mencari Alamat 

: Nurhidayat Poso 

/1/ 

engkau, puisi yang tergelincir dari langit
bergulung-gulung di dinding tebing
lalu jatuh di rumput lembah
ingin aku menyeka wajah letihmu
wajah pencarian

/2/

engkau, puisi yang mati suri
terbaring di ruang perawatan
tak ada dokter jaga yang menunggui
ingin aku memanggil kereta
dan mengantarmu ke negeri sunyi

/3/ 

engkau, puisi yang mencari alamat
di abad yang telah pengap
aku ingin membuka tabirnya
mengirim cahaya dari masa lalumu
yang kau tinggalkan di tengah perjalanan

2014 

Penat Menggenap 

seperti suara dalam air rinduku
jadi santapan ikan-ikan
menggelembung lalu
mengapung menguap tanpa alamat

Baca juga:  Di Hari Eksekusi Itu - Pada Sebuah Kafe - Beri Saja Judul Sajak Ini Meditasi

o, penat yang menggenap
biarkan aku lelap
memeluk gelap

2015

Mengemas Segala Cemas 

rindu menggenang di taman kota
gerimis meluruhkan baris puisi
yang kutulis di trotoar jalan

ah, sebaiknya aku bergegas
mengemas segala cemas
agar cinta tak tergilas

2015 

Episode Rindu 1 

rindu adalah jalan terjal
penuh liku
yang berujung di pintu rumahmu

2015 

Episode Rindu 2 

aku menyimpan
rindumu pada kata,
mengulum cintamu
pada makna,
dan menjaga pesonamu
pada rima.

2015 

Memahat Rindu 

: Ririn Riantini 

aku menitipkan
cahaya di sekejap singgahmu
cahaya yang lahir dari endapan sunyi
setelah kau pergi, cahaya itu menjelma belati
menyayat setiap lipatan mimpi
menghentikan langkahku
di bentangan waktu yang beku
dan memaksaku memahat rindu

Tegal, 2015 

Baca juga:  Mengenang Ragil Suwarno Pragolapati - Pelangi dan Burung-Burung - Di Bandara Ngurah Rai - Simpang Siur

Di Surga 

bidadari kesepian
menunggu malaikat pulang pesta
tuan langit duduk di kursi malas
mengisap cerutu dari cuba

malaikat datang sempoyongan
aroma tubuhnya parfum murahan
wanita jalang pinggiran jalan

di luar, sekawanan ruh berjejal
masuk ke dalam pot bunga
menjelma cacing tanah

2015

Joshua Igho, lahir di Magelang, Jawa Tengah. Ia merupakan salah satu penyair yang tergabung dalam Komunitas Negeri Poci dan Gerakan Puisi Menolak Korupsi. Buku puisinya Nyanyian Kemarau (1999).
Saat ini bermukim di Yogyakarta, menekuni profesi sebagai musikus, desainer website, dan editor.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joshua Igho
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 4 Oktober 2015