Tuas Angin – Dilarang Masuk – Dilatasi Waktu – Dalam Gelap – Nokturnal – Teh Pagi

Karya . Dikliping tanggal 11 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Tuas Angin

jika ingin berbelok ke kiri
kamu perlu menarik tuas ke arah kanan
dunia menciptakan keterbalikan
dan kamu akan membawaku ke mana?

arus menghadang
menghadirkan kenangan
angin selalu berusaha membelokkan tujuan
sekuat apa kamu teguh denganku?

sementara teguh di depan sana
sekumpulan orang melambai
mereka meminta pertolongan
atau memberi bantuan
bisa saja arus tak menepikan apa-apa

kita mengalir
mengalungkan duka dan suka bersamaan
menembus setiap kerumunan
dengan menutup telinga

SudutBumi, 2015

Dilarang Masuk

masa lalu menjadikan tubuhku dua
pikiran bercabang-cabang melebihi seharusnya
belum lagi kekinian yang mengejar
untuk tepat waktu

seseorang menutup pintu
yang seharusnya terkunci sejak lama

aku memaksa masuk
menarik kenangan agar tetap bertahan
menemani hidup dengan sisa senyum

Baca juga:  Luka Kembara - Rekonstruksi Merah dan Putih - Tiba Waktu

SudutBumi, 2015

Dilatasi Waktu

jam dinding memang sudah mati
tapi, mengenang kepergian
serupa membangkitkan goncang
gemuruh dada juga air mata

untunglah matahari memeluk tubuh
sinarnya menghangatkan setiap
jendela rumah yang nganga

waktu terus melaju meski arloji
kehilangan daya ungkap masa lalu
berkejaran melintasi jerat diorama
menyela setiap penanya
berlarian selundupkan cinta tersisa

waktu dan kamu menjelma
ruang tenung tak berujung
dilatasi kembara
kepasrahan semesta raga

SudutBumi, 2015

Dalam Gelap

hujan mendatangkan nyala api
menghadirkan bentuk bayang-bayang

ketika pilihanmu menjadi abu
jangan pernah salahkan takdir

ia membebaskanmu menyukai apa saja
termasuk lebur dalam dosa

SudutBumi, 2015

Nokturnal

kami menunggu jamuan dimulai
satu per satu tamu berdatangan

Baca juga:  Stasiun Gambir - Tanah Kelahiran - Malam Jatuh Di Pantai Kendari - RumahTua

seorang perempuan tiba
membawa pundak penuh mantra
ia mendesis panjang
tak ada yang paham maksudnya

muncul laki-laki tua dari pintu masuk
memanggil-manggil sebuah nama
tak ada yang peduli dengan teriakannya
angin menasbihkan nama suci tuhan

pertemuan belum dimulai
malam semakin berisi
dan suara air di ujung lembah
mewujudkan gigil

dari dinding kadipaten
sosok yang ditunggu singgah juga
ia berhasil menurunkan hujan pekan lalu

tubuhnya transparan
meliuk-liuk diterpa gumam pendatang
sayap di tubuhnya mengembang
sekelebat memutari ruang pinang

baru saja berkah dilemparkan
dan kami berebut masuk dinding itu

SudutBumi, 2015

Teh Pagi

aku menyeduh rasa rindu
mengaduk-aduk kenangan
bersama waktu terus melaju

Baca juga:  Rindu yang Tak Menyatu - Cinta Sepihak - Senja

aku meneguk kehangatan
hadir melalui ruap ratap
melipat harapan untuk
pertemuan selanjutnya

SudutBumi, 2015

Dian Hartati, lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Mengelola blog sudutbumi.wordpres.com. Nyalindung merupakan kumpulan puisi stensilannya yang pernah dicetak terbatas dan kini dapat diakses melalui aplikasi Wattpad. Selain itu telah menerbitkan Kalender Lunar dan Upacara Bakar Rambut. Dapat dihubungi melalui akun Twitter @dianhartati

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Hartati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 11 Oktober 2015