Variasi Pagi – Variasi Caruban – Variasi Imigran

Karya . Dikliping tanggal 25 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Variasi Pagi

matahari di sebalik kabut,
shubuh enggan beranjak
Setapak sisi rerimbun bambu
: pagi masih berembun
kericik air di pangkal pancuran
angin dingin meesap
buliran malai padi membernas
: basah. leleh keringat
angin melantang daun bergoyang
: tetes keringat runtuh
bergegas pergi, menyusuri pematang
dan mencegat bus
2015

Variasi Caruban (1)

bongkahan batu, jalur tanah-
disambung jembatan gantung
jalan makadam mengikat rindu
: galau menunggu panen
rumput di tepi saluran, embik
kambing di dalam lambung
bunga turi dan daun tela disiram
air sambal kacang
bertahun tubuh dipiut, ruh
keriput di tengah usia
di batu-batu tertera huruf-huruf
: di-angon lapar
dan nafas, bagai kentut, membawa
perih asam lambungnya
2015

Variasi Caruban (2)

dan kelahiran bertanda liang
lahat: kubur placenta
lantas rentangan panjang lapar
direndam telau keringat
denging tongeret pada dahan
cempedak. kemarau nanar
jalan simpang ke kuburan-
ke jalur pintas. gantung diri
apakah ada reinkarnasi? jelma
menjadi anjing?
antara lahir dan mati: lapar
tetap sepanjang usus
ruh gemetar, yang hidup butuh
kenduri, makan serta doa.
2015

Variasi Imigran

data ktp sunyi, ketika di-scan
terbaca: alien
aku berasal dari mana? rentangan
rel ratusan mil
berangkat petang tiba pagi, tersuruk
ke waktu lain
apakah kita satu silsilah? engkau
melengos-bungkam
dan derap roda kereta sepertinya
menuding: kau kau…
tolong dicatat: mati dalam terbuang
–berkalang sunyi
sendiri lagi. kembali jadi angin
: semesta hampa
2015


Beni Setia, pengarang


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 25 Oktober 2015