Waktu Bercinta Belum Usai – Daun Yang Luruh Di Pangkuan – Madah Gila

Karya . Dikliping tanggal 11 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Waktu Bercinta Belum Usai

PERLIHATKAN padaku merah pipimu
yang terhalang cadar saga itu
tentu hatiku akan kegirangan tak terkira,
takjub dalam pesona
batu bisu di bibirku akan melecut ke
segala penjuru

Sejak kita saling jatuh cinta, jagat
serasa penuh bunga
bibir kita senantiasa basah kuyup oleh
madah rindu bertalu-talu
dada kita terasa begitu sesak aroma
wangi bunga asmara

Kita saling bertemu, namun tiada kata
usai atau jemu
serasa hilang waktu, hilang pula bulan
menawan saat bersamamu
waktu bercinta belum usai walau ajal
tiba memisah raga

Yogyakarta, 09 Juni 2015

Daun Yang Luruh Di Pangkuan

GERISIK menarik lelap imaji di gigir
sunyi batang hari
dari jauh angin berlabuh hanyutkan lelah
tubuh sedari subuh
rona cahaya mengintip separuh di tepi
laut kuyu membiru

Baca juga:  Elegi Terakhir - Melewati 27 - 28 April (BBM untuk Chairil ) - Indragiri

Daun yang luruh di pangkuanku adalah
lirih lagu sendu
kilas bayang kian tirus jauh, tangan tak
sampai menggapai
entah sampai kapan waktu berkata
tepat mengantar kabar pulang

Gaok bukanlah kabar kematian, bukan
pula sebagai isyarat kedatangan
pohon jati adalah saksi kapan kau pergi
dan kembali
di sani, sering kali kududuk menanti
sembari menghitung hari

Yogyakarta, 17 Juni 2015

Madah Gila

ADAKAH kegilaan hidup melebihi orang
yang sedang jatuh cinta?
para pecinta telah menyibak selaput
gelap penghalang sorot matanya
sepanjang waktu, para pecinta
bersukaria luapkan segala rasa jiwa

Baca juga:  Larut Jiwaku - Vivase Desir - Zulmat Awan - Dada yang Penuh Bisikan - Arumba

Musim bunga telah tiba, seiring waktu
buah ranum masak
pengecapan para pecinta sedemikian
legit di antara rasa pahit
penyair, dari bibirmu gubah kata
memesona sukma bak bernyawa

Guncangan apalagi yang akan
gugurkan bunga sukacita di dada?
diamlah! Selain kata-kata cinta, suara
hanya akan menjadi luka
kebahagiaan para pecinta hanyalah
bersama kekasih tercinta tanpa jeda

Yogyakarta, 17 Juni 2015

Anam Khoirul Anam: Novelis sekaligus penyair kelahiran Ngawi, 26 Juni ini sangat gemar menulis puisi bermazhab puitik-romantik. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media massa lokal maupun nasional. Puisinya juga masuk dalam antologi Puisi 142 Penyair Nusantara Menuju Bulan, serta tergabung dalam antologi karya Selaksa Makna Cinta (Pustaka Puitika: 2010) dan beberapa  antologi lainnya. Saat ini bergiat dan mengasuh komunitas literasia Anam Khoirul Anam Reader (AKAR). (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anam Khoirul Anam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 11 Oktober 2015