Amba – Bisma – Pohon Asing – Daun Tunggal – Di Kebun

Karya . Dikliping tanggal 22 November 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Amba

Namaku Amba, perempuan yang dadanya
tertembus mata panah Bisma
yang mengukir kesetiaan di luar kematian raga
Ya, akulah Amba, yang tahu bagaimana Bisma
mengungkapkan bahasa cinta
sebagai seorang ksatria
yang harus kujemput di Kurusetra
Aku dan Bisma
pengantin yang sembunyi
dari mata dunia
dan memilih tinggal di angkasa
bersama para dewa
Hanya aku, ya, hanya aku yang tahu
bahwa cinta bukan kisah pilu
dan tak gagal oleh waktu
Aku dan Bisma
adalah busur dan anak panahnya
yang melesat jauh ke sorga
meminjam tubuh merpati
terbang dari roda kereta
seusai Baratayuda
Magelang, 2014

Bisma

Haruskah aku melepas kalung sumpah
yang sudah kupakai, Amba?
Tak hanya dewa
langit dan matahari pun sudah mencatatnya
aku menolak tahta
demi ayahanda
Aku tahu
mataku tak bisa menipu
engkaulah bayang-bayang
yang mengikutiku
Mata panah di dadamu
bahasa laku yang mengantarkan temu
seperti rongga di luar waktu
yang menggagalkan cumbu
Aku masih mendengar bisikanmu
dan mengiyakan sumpah itu
Magelang, 2014

Pohon Asing

pohon yang tertanam di matamu
menjatuhkan apel sakral
di tanganku yang berpisau
dulu, pohon itu seperti dongeng
turun-temurun singgah di telinga
lalu aku mengupasnya
seperti tukang baca
yang menyusuri setiap alinea
di tikungan sebuah aksara
aku berhenti
menemukan wajahmu kembali
asing
seperti biji-biji apel hitam
yang jatuh berjatuhan
Magelang, 2014

Daun Tunggal 

terkulai di sungai waktu
daun tubuh berlayar ke muara
tak ada siapa-siapa
meski sekadar doa
mengapung kelam
tak siang tak malam
seperti ukiran hujan
jatuh menimbun kenangan
seusai melintas tikungan
terdengar gaung kematian
Magelang, 2013

Di Kebun

ada yang menunggu daun gugur
seperti kita yang setiap hari berkelakar
dengan jarum jam
ia, si penunggu daun gugur itu, tak pernah tua
duduk di akar tubuhnya sendiri
sebagai pecinta hidup
seperti juga kita
yang diam-diam acap menutup cerita
pada setiap senja
lalu, ia pun bertanya, kapan daun gugur lagi
ketika kita juga bertanya-tanya
makna hakikat pulang dan pergi
di kebun, senja sangat lihai melukis waktu
yang begitu cepat berlalu
seperti gerak jarum jam di tangan itu
Magelang, 2014
Dedet Setiadi, lahir di Magelang 12 Juli 1963. Puisi-puisinya banyak dipublikasi di media massa sejak tahun 1982. Beberapa puisinya juga termuat dalam antologi: Konstruksi Roh (UNS, 1984), Warna-warna Roh (UNS, 1987), Puisi Indonesia ‘87 (DKJ, 1987), Vibrasi Tiga Penyair (Sanggar Tiwikrama, 1990), Rekonstruksi Jejak (TBJT, 2011), Requiem Bagi Rocker (TBJT, 2012), Negeri Abal-Abal (2013), Negeri Langit (2014) dll. Kumpulan puisi Tunggalnya berjudul ‘Gembok Sangkala’ (Forum Sastra Surakarta, 2012). 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedet Setiadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 22 November 2015