Aubade Jalan Pulang – Jerusalem – Pagi di Sebuah Kampung

Karya . Dikliping tanggal 22 November 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Aubade Jalan Pulang

luka, hanya karena sedikit luka
meminta ular melepaskan kulitnya dari balutan waktu
lalu mengisi kembali racun yang menanggung rasa sakit
ketika bertahan dari gesekan punggung batu
biarlah yang pergi menghapus namanya sendiri
seperti bekas kulit ular itu
tapi tunggu, dan lihat
ketika rayap membangun rumah dalam sebatang kayu
apa yang diidinya setelah itu, hanyalah kekosongan yang panjang
kawin, tanpa peduli nikmatnya, bertelur
meninggalkan semuanya dalam keadaan rapuh dan kuyu
lalu pergi menghapus namanya sendiri
tak semudah itu menghapus luka yang sudah mengatup
kita harus mengingatnya seperti sebuah bangsa yang menjaga
bekas bangunan yang sangat tua
kecuali mereka menghapusnya sendiri
setelah, setelah meninggalkan cacing pita
yang tak pandai menemukan jalan menuju lubang air mata
Pekanbaru, 2014

Jerusalem

di sebuah negeri yang dihanguskan kata-kata
bau mesiu masih bergayut di ujung hidung
bunyi roket juga menghantam telinga
keduanya hangat dalam kepala
selembar bendera dijahit sekali lagi dari benang-benang
sisa tali kutang
ketika seorang anak menyimpan dendam dalam saku celana
lalu mendirikan lampu kota yang terang di pinggir makam
saudaranya
anak itu bertanya kepada saudaranya yang masih tersisa
apakah masih ada kegembiraan
jika proyektil menghantam mereka sekali lagi
apakah masih bisa dihidupkan
saudara kita yang matinya belum sempat menyebut nama Tuhan
Pekanbaru, 2014

Pagi di Sebuah Kampung

kau adalah seekor naga yang melontarkan kenangan demi kenangan
ke sebuah kampung yang merindukan pagi jatuh ke wajah mereka
dewa-dewa yang lain berusaha memadamkannya
maka dia meniup angin yang lembut seperti gigitan ular
tapi membuatnya bertambah besar
tak seorang pun warga kampung berani melawan
hutan mereka botak, ribuan burung beranjak
sisasnya berjatuhan
jutaan ton garam dilepaskan
aduh, tapi terlambat
sebentar lagi tuan sawit akan datang
Palembang, 2014



Alpha Hambally, lahir di Medan, 26 Desember 1990. Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Tinggal dan berkarya di Pekanbaru. Kini bergiat di komunitas Paragraf.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alpha Hambally
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 22 November 2015