Paspor Nenek – Mengenang Mimpi Suatu Pagi – Migrasi ke Bangka

Karya . Dikliping tanggal 15 November 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Paspor Nenek

di lembaran yang menguning,
masih saja terbaca
titimangsa kusam itu:
swatow, 11 november 1936
dan di matamu, seketika terbayanglah
tahun-tahun yang lusuh
: sisa semang revolusi,
juga ancaman invasi
“ya, sebelum jepang makin mendekat ke arah
selatan, kami menikah di daratan besar,”
demikian seorang lelaki muda yang kelak
kau panggil akung, mengingatkan
lalu kau bayangkan sosok gadis remaja itu
dengan rambut tergerai separuh,
dengan tatapan yang sayu;
mungkin penuh haru
(seperti dua keping materai biru
berharga satu dollar di sudut halaman)
: perlahan menaiki tangga kapal uap
yang menderu-deru
ke laut jauh,
ke nanyang yang baru
usianya tujuhbelas kala itu
dan tahu, chung hwa min kuo* tinggallah
sebuah cap stempel, secarik restu,
sepotong rindu
Belinyu-Yogyakarta
Agustus-September 2015
*) Republik Cina, diproklamasikan 1 Januari 1912 oleh Dr. Sun Yat-Sen

Mengenang Mimpi Suatu Pagi

terbangun sekitar pukul enam pagi
ia pun membuka pintu dan melihat
jalanan dan emperan ruko yang basah,
lalu penjual buah yang tergesa
menggelar lapaknya
namun, senyum itu terus mengikatnya
di dunia yang tak lagi kasat mata
dunia yang barangkali membuatnya betah
ia coba mengingat, mungkin pernah
di satu masa yang nyata mereka bersua
: ai, adakah dalam mimpi, dejavu juga ada?
tak ada jawaban
selain hawa lembab sisa hujan semalam
yang sedikit menyiksa
dan ketika ia coba membayangkan lagi
seraut wajah, senyum itu pun
sempurna mengkhianatinya
Bangka-Yogyakarta, 2015

Migrasi ke Bangka

thong sit jung, kakekku’

di geladak kapal jerman, kung
di antara kepak camar, debur ombak, dan 
kerlip lampu mercusuar, lamat-lamat
terdengar juga lagu esan min chu-ii
maka sebelum angin muson barat reda,
si bocah sembilan tahun pun mengerti:
kelak di sana, di pulau itu, akan ada
banyak orang berbicara dialek hakka
(dengan gaduh)
akan ada potret sun yat sen di rumah-rumah
juga kibaran bendera negara….
tetapi bertahun-tahun ia terus bertanya
bercak yang mengering di atas kertas itu,
adakah bekas kesedihan yang jatuh
atau setetes harapan yang tak pupus oleh waktu?
si bocah hanya memejamkan mata, coba
membayangkan goresan huruf rumah
tatkala pegawai imigrasi mencatat
bekas luka di pelipis kanannya
pada lembaran vergunning tot vestiging* lalu
membubuhkan sebuah tanggal
yang gamang: 9 agustus 1926
di sungailiat, di luar negeri;
di kampung baru
Yogyakarta, September 2015
*Paspor di zaman kolonial Belanda

SBKRI*

    : untung thong kwet tjhu

siang 11 juni 1980
akhirnya aku memilih kembali
bukan ke sejarah ayah;
yang mengalirkan darah hoa ren
di skeujur tubuh ini
tapi ke kota kelahiran, dimana
warna bendera dan bahasa
tidaklah sepenuhnya kupahami
untuk membangun
rumah abadi
sembari menyangsikan
hari-hari; ah, terik matahari!
(kiranya tuhan dan leluhur
melindungi keluargaku nanti)
Bangka, Agustus 2015
*Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia


Sunlie Thomas Alexander, lahir 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Buku puisinya yang sudah terbit berjudul Sisik Ular Tangga (Halindo, 2014). Saat ini sedang merampungkan dua buah novelnya Kampung Halaman di Negeri Asing dan Di BAwah Kibaran Empat Bendera.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 15 November 2015