Rawa di Atas Gunung – Wayang – Musim Hujan – Ibadah – Warna – Peta SUrga – Gamelan

Karya . Dikliping tanggal 6 November 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Rawa di Atas Gunung

ada rawa di atas gunung
airnya hangat di musim hujan
konon di situlah bidadari mandi
sebelum kemudian pergi lagi
ada rawa di atas gunung
airnya bening berkilauan
banyak ikan kecil berenang
dan menyelam
ada rawa di atas gunung
sekian lama bikin bingun

Wayang

aku ini wayang
kehilangan bayang
dalang tergagap-gagap
karena layar makin gelap’
kau pun wayang
kehilangan kisah
kayon melayang
menuju entah
dia barangkali juga wayang
sekaligus dalang
selalu sewenang-wenang
dalam kuasa yang mentang-mentang

Musim Hujan

pada semua lembah
air hujan selalu bermuara
menjadi bah
kenapa dianggap musibah?
pada air bah
hanyutlah sampah
juga serapah
dan gemburnya tanah
musim hujan
hujan begitu ramah
menyapamu
musim hujan
mendung pun menjadi pupur
di wajah-wajah

Ibadah

atas nama diriku
aku menyembah
kanya kepadaMU
harap maklum
atas nama cinta
aku memujaMU
tanpa rasa takut
pada nerakaMU
atas nama rindu
aku menungguMU
harap maklum
atas namaMU
cinta adan rinduku
biarlah berlabuh

Warna

Dari mana datangnya warna?
Jangan jawab dari mata
karena tak ada warna di mata
Dari amna datangnya warna? 
Jangan jawab dari cahaya
Karena tak ada warna di cahaya
Dari mana datangnya warna?
Jawablah dari warna-warna!

Peta Surga

berita dan cerita tentang surga
telah kau beberkan
lewat pengajian dat khotbah
tapi semuanya tak lengkap
karena peta surga tetap gaib
sebetulnya kita rindu surga
setiap kali membayangkannya
meskipun tak pernah melihat petanya
betul-betul ajaib
pernah kucoba membuat peta surga
tapi tak pernah selesai
selalu ada yang sulit terbayangkan 
seperti wajah yang pencipta
jangan-jangan peta surga itu di hati
ya, di dalam hati setiap manusia
yang kelak baru akan etrbaca
setelah mati?

Gamelan 

bunyi-bunyi itu melawan sepi
menawarkan rindu pada yang abadi
seperti kicau burung
yang terkurung
bunyi-bunyian itu menikam hampa
menawarkan cinta pada yang baka
seperti raungan serigala
di malam purnama
bunyi-bunyian di dalam dada
adalah gamelan kehidupan
mengiringi tembang kehidupan
sepanjang zaman
Dr Asmadji As Muchtar, lahir di Pati 6 Juli 1961. Wakil Rektor III Universitas Sains Al-Quran Wonosobo, tinggal di Jalan Simpang Tujuh Kudus.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Asmadji As Muchtar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 8 November 2015