Selalu Remaja – Dukamu – Siklus – In Osculo

Karya . Dikliping tanggal 8 November 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Selalu Remaja

1/

Di bawah cecabang pohon, dalam
kecemasan tamasya, kau terlihat
selalu remaja. Cahaya yang menerabas
dan menyentuh wajahmu pejam,
Waktu– seperti hitungan darimu-– pucat
dan mengeluarkan nada dari dawai bas.
Meski di dada ada limbubu
yang tak bersuara– hanya aku.

2/

Seperti berkali dilahirkan,
luka pada dirimu ditahirkan.
Barangkali– di tubuhmu– waktu
adalah sungai deras yang membasuh
seluruh peristiwa nahas.

3/

Alamat yang kupunyai hanya cahaya,
setiap kali aku berdoa, kugelapkan
segala pengharapan.
Berulangkali aku pergi tamasya,
untuk memastikan: di dalam rerimbunan,
apakah kau bertahan?

4/

Melihatmu, membuatku jadi teruna.
Waktu hanyalah hitungan; 1, 2, 3…
Lalu di pepohonan, kau bersembunyi.
Dan di setiap permohonan, aku mencari.
2015

Dukamu

Dukamu kubawa pada kedua telapak tanganku. Pisau-pisau itu
tertancap dan tak bisa kucabut. Luka mengalirkan suara yang bisa
kaudengar dari puncak gunung-gunung beku. Dari hutan dan hulu
sungai. Dukamu kubawa dalam sampan. Dalam suatu suasana
kaku: aku adalah yang diperjalankan di atas retakan dan rekatan
danau kaca. Kau penumpang menjelang ajal. Mengerang, dan
menyebutkan nama-nama dan beragam kenangan. Hijauan
yang tumbuh dari ceruk kelam menganga. Dukamu menjelma malam
dan tubuhku yang terbuka dan terluka. Malam yang merintih
sebelum pecah semua jadi buih.
2015

Siklus

Jangan bayangkan mereka yang mati. Sebab kau
berungkali jadi belulang di antara belukar nanti.
Bayangkan tunas, dedaunan, bunga dan burung
yang akan bersaran di cecabangmu yang anggun.
Bayangkan juga tawa bayi di sayap kupu-kupu. Setelah 
kepompong itu tebruka, setelah bunga-bunga merona,
Aku melihat gemerlap sisik ikan, keciap burung dan
kepak juga kecipak kehidupan. Daun dan biji berjatuhan.
Kusaksikan juga para nabi berjalan-jalan di taman,
air mata mereka bercucuran, tapi senyumnya seperti ditahan.
Mungkin Tuhan berfirman di antara kehidupan dan 
kematian. Di antara aku yang menulis dan kau yang
membuka pintu rahasia dari reruntuhan kata.
2015

In Osculo

Kabut hilang jerit, pulang ke bukit-bukit,
mengulang masa-masa sulit.
Masa di mana kuntum cemara dan seekor
burung dara mmekerakan suasana– hati manusia.
Kipas di tanganku tertutup, suara napas di lehernya
terdengar gugup: mata siapa hendak menutup?
Di antara kabut yang berlalu, dan kenangan
yang bertalu– aku termangu.
Mengenang peristiwa lalu
— menjelang pagi, kau menciumku.
Dan menyebut namaku sebagai domba
di hari perlaluan dosa. Dan pokok-pokok
cemara seperti doa-doa tabah.
Dan seekor burung dara terbang
di langit terbuka.
Sedang cinta seperti pedang,
urung tercabut dari sarung.
2015
Dedy Tri Riyadi giat di Paguyuban Sastra Rabu malam di Jakarta. Buku puisinya Liburan Penyair (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedy Tri Riyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Sabtu 7 November 2015