Balada Cigak Mendapat Permainan – Balada Singa Ompong – Balada Rusa Patah Kaki

Karya . Dikliping tanggal 20 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Balada Cigak Mendapat Permainan

Badrul Mustafa teringat cerita pendahulunya
Yang ketika pertama kali melihat cermin
Mengaku sungguh tak mengerti mengapa ada
Makhluk yang tak mau bersuara tapi selalu saja
Seperti ingin ikut berkata setiap kali ia bicara
Tapi Badrul Mustafa sebenarnya lebih tak mengerti
Mengapa ketika pertama kali bertemu cermin
Pendahulunya itu hanya sibuk menceritakan
Diri sendiri tanpa berkira bahwa makhluk itu
Barangkali ingin menceritakan sesuatu juga,
Maka ketika pertama kali melihat cermin
Badrul Mustafa sengaja tak bicara dulu
Kecuali berpandangan dengan makhluk itu
Berjam-jam lamanya, hingga ia saksikan
Beratus kilometer jalan terbentang di balik
ata makhluk itu, dan ia bayangkan berapa
Kedai nasi yang bisa ditegakkan di setiap
Simpangnya, dan betapa, ah sudahlah,
Betapa tak mau sia-sia seperti pendahulunya,
Badrul Mustafa berencana mengajak makhluk itu
Pergi minum kopi dan membicarakan sesuatu.
(Kuranji, 2015)

Balada Singa Ompong

Berikan aku mimbar, agar kusampaikan sepilihan kisah tak biasa
Atau apa saja, asal jangan disebut kabar dusta, tentang lelaki
Dengan kitab suci di tangannya, yang diutus ke negeri penuh
Ratap dendang ini – tempat kalian menjadi kaum menghias diri,
Untuk menjadi juru selamat bagi siapa saja yang entah kenapa telah
Lupa bahwa untuk masuk surga harus tercatat sebagai fisabilillah,
Maka percayalah, tolong percayalah, benarkan bahwasanya
Utusan itu adalah diriku, sungguh tak ada sebelum dan sesudahku,
Sudilah kalian begitu percaya dengan segala yang akan kuberitakan,
Tak sedikit pun aku membawa kabar sesat, tapi sebelum kisah dimulai,
Adakah kalian tahu, sebagaimana orang sebelum kalian, beroleh gelar
Fisabilillah tak mudah, kecuali kalian jawab ya setiap aku bertanya
Akankah kalian serahkan harta setelah mendengar seluruh kisahku?
(Bengras, 2015)

Balada Rusa Patah Kaki

Berkali-kali kau berseru, bagai seorang pedagang kitab suci,
Agar kami segera beriman pada kisahmu, tapi kau tak kasih tahu
Dari mana kau mulai melangkah. Atau dengarkan dulu setiap
Ratap yang kami dendangkan agar kau tak terlalu percaya bahwa
Utusan berikutnya itu dirimu. Atau kau cuma pengkhotbah keliling,
Lantaran belum cukup pengikutmu, maka kau menuju ke tempat ini.
Mungkin kau lelah berkelana dan sebentar saja akan kaulupakan soal
Utusan berikutnya itu, tapi ingatlah, kau tak akan pernah dianggap
Sebagai juru selamat di sini, di negeri terkutuk yang diceritakan kaum
Terdahulu itu, kecuali bila kaubaca balada ini, atau apa saja namanya,
Agar tak sia-sia kau melangkahkan kaki ke sini, dan agar kau sungguh
Faham bagaimana cara menyampaikan kalimat per kalimat
Alif lam mim dirimu kepada kami ini, o, juru selamat kami sendiri.
(Kandangpadati, 2015)
Heru Joni Putra lahir 13 Oktober 1990 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Alumnus Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Heru Joni Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 20 Desember 2015