Dari Rindu ke Pilu – Suratan Takdir – Masjid – Khianat

Karya . Dikliping tanggal 6 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Dari Rindu ke Pilu 

Ibu membuka-buka album keluarga, berkaca-kaca
membaca jakarta, sumatera, dan eblahan timur pulau jawa
Ibu mengusapmata, anak-anak rindu menitik, mengusik sembilah masa
Ibu menghela napas: lelatu pesawat, gemuruh hujan, kapal karam
larut dalam senja, dan sesayup suara
: semua telah jadi debu, ibu
Tmb, 30 Juni 2014

Suratan Takdir

surat-suratku tak pernah sampai bukan karena alamatmu tak jelas
alamat-alamatmu selalu pindah dari satu malalah ke masalah lain
kalau tidak diurutkan jalur-jalur jalannya akan menyerupai peta
meunjukkan pulau-pulau penuh prasangka
tak seorang pun bisa mengikuti ke mana engkau pergi
sebab kaki kirimu sendiri maju sementara yang kanan selalu ke belakang
selalu ada keinginan pergi dan pulang bersamaan
dan itu menyulitkanku memberimu pemahaman
aku kini tidak lagi membuat surat-surat apalagi mengirimkannya
aku hanya menulis kata, kata, dan kata
dan aku terus mengeja. Memahaminya sebagai surat, surat-suratan
dan pasrah ketika harus kubaca sebagai suratan takdir
Tmb, 18 Juni 2014

Masjid

rumah teduh
dan ramah bagi siapa pun yang ingin singgah
tak ada yang benar-benar singgah
memasuki lorong-lorong rumah
hanya mampir. Dan berlalu
dan langkah-langkah itu semakin jauh
Tmb, 28 februari 2015

Khianat

janganlah kisruh kursi-kursiku, jangan gaduh mejaku
satu demi satu kakimu akan patah
keluar dari acara makan-memakan
dilemparkan ke gudang
berteman rupa-rupa binatang
tetaplah tenang kursi-kursiku, mejaku
sesama kaki empat janganlah saling sikat
lihatlah di ruang-ruang sidang banyak meja dan kursi slaing khianat
saat sidang soal rakyat*
di antara mereka
tidak semua sebangsa kalian
-ada yang berkaki dua-
memang bukan teman, tapi mau tak mau harus sekandang
Tmb, 26 Februari 2015

*dari lagu “Wakil Rakyat,” Iwan Fals
AKA, lahir di Kuningan. Penulis fiksi dan nonfiksi
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aka
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 6 Desember 2015