Jagir – Ziarah makam – Bukan Orang Gila

Karya . Dikliping tanggal 13 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Jagir

Tinggal puing sunyi brsemayam beku
dalam tenda remang rumah kupu-kupuKereta-kereta berderap membelah bulan
di matamu memantulbayang hitam penumpang
Pasar Wonokromo yang riang berlipur gamang
diserbu pendatang dari negari hujan
Kau yang buta memandang dari kedalaman mata
pelacur
bertanya pada rel berapa waktu sudah tertidur
Tanahmu retak tak kuasa menahan isak
sedu sedan pengangguran bergema sepanjang 
jalan
Ketika kau saksikan wajah-wajahbatu tegak
lebih tinggi dari tugu pahlawan
“Setelah gerbbong-gerbong tak lagi berhenti
kucium semerbak kembang tujuh warna.”
Tapi apa arti suara lirih di tengah deru mesin
bila tanah terkasih jadi milik orang asing?
Yogya, 2015


Ziarah Makam

Aku datang sebagai orang asing
Rindu getar suaramu saat fajar singsing
Suara yang membungkam keriuhan burung-burung
Ketika kembang pagi kuntum
Memercikkan warna merah ke wajahmu
Harumnya pun sampai kepadaku
Berapa musim telah lalu
Aku dikepung jutaan lampu
Lampu yang mengajarkan lupa pada kata
makna dan sederet kisah hakikat cahaya
Seperti berada dalam rumah tua
Di mana-mana kulihat luka usiaNamun tak satu pun memberi tanda
Bertanya pada jalanan bercabangAku disesatkan rambu-rambu
Tembok penuh grafiti di seluruh sudut kota
Menambah kecemasan
lantaran orang-orang bergegas
menahan perih syahwat yang tak pernah tuntas
Langit mendung bagai burung elang
pembawa kabar kematian
Di bawahnya gedung-gedung menjulang
menutup pintu dari ketukan hujan
Aku datang membawa kisah panjang perjalanan
Setumpuk rahasia terpendam
Kukatakan padamu sebagai ucapan salam
Meski kini kau hanya sebuah nama di batu nisan
Tak mendengar suara angin menderu dari selatan
Tak melihat gerak bintang nenggala di ketinggian
tapi kutahu kau masih ada,
dalam nyanyi sunyi semesta
Kediamanmu adalah magma
yang menyalurkan tenaga api
ke puncak cakrawala
Kusiram air suci di atas pusaramui
Bunga aneka warna kutabur
Agar harum napasmu terus semerbak
Hingga ke nadi waktu,
Waktu yang kutinggal pergi ke ruang kerja

Bukan Orang Gila

1/

Kau bukan lelaki gila seperti kata orang
Enggan mandi atau sembahyang
Tapi kau hanya lupa, di atas tanah kakimu tegak
Berderap menciptakan jejak
                Antara rindu dan sajak
Satu waktu kulihat kau berjalan di Andulang
Saat yang sama kau berada di Jenang
Walau tak ada yang percaya
Jiwamu  moksa ke puncak bukit
Menjangkau langit tujuh, yang jauh
Hingga hari paling syahdu tiba
Angin menjemputmu dan membawamu ke utara
Orang-orang bertanya, semerbak harum
Sumbernya di mana?
Sedang musim rekah bunga belum datang
Kemenyan-dupa belum diarang

2/

Syair-syair cinta kau tembangkan
setiap matahari surup
Maghrib jatuh di langit desa
anak-anak petani pulang
dengan layangan kuning habis diterbangkan
Kulitnya legam tembakau, matanya tajam celurit
Kau yang kecil dan tua memandang pada mereka
Seolah emnyaksikan dunia dongeng tanpa bahasa
Berdenyut di jantung tanah
Seperti senja segera purna, ada saat
di amna kilatan cahaya melesat
Di matamu menjelma syafaat
Cinta membuat  manusia memilih
rasa timbang warna
Begitulah kutahu tentang kau
Terasing dari kata, dekat pada makna
Kamil Dayasawa: lahir di Sumenep, 5 Jui 1991. Mahasiswa sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Rujukan:
[1] Disalin dari Kamil Dayasawa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 13 Desember 2015