Penyeberangan – D. Zawawi Imron

Karya . Dikliping tanggal 27 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Penyeberangan

Diumumkan kepada penumpang kapal
Madura
dengan hati setenang riak di muara
Tak seorang pun diperbolehkan
membuang garam di lautan
segenap beban di dada
Mohon diselipkan di sela layar  bergambar
langgar
Oleh karena pelayaran ini penting adanya
diharap kesediaan setiap penumpang
Mencatat setiap kitaran gelombang
Arus, mercusuar, dan pangkalan fana
Di anjungan tempat kegelisahan bersandar
Sebaiknya penumpang tak abaikan awam
Arah angin dan peta perjalanan
Menuju kampung bersulur fajar
Olle ollang. olle ollang,
Perahuku perahu kuda bersayap
Lintasi pulau Sumekar senyap
Dalam bujukan sang penambang

Dianjurkan bagi penumpang kapal
Tujuan pelabuhan kekal
Bertahan sejenak dari sakal
Biarlah ombak dari bantal
Bagi penumpang penakut
Rentangkan angin jadikan selimut
Sebelum api dari tanah Lancor
Tinggal riap di ujung obor
Olle ollang. olle ollang,
Perahuku perahu sapi karapan
Tinggalkan bukit kapur Sampang
Pantang menyesap liur muntahan

Kapal akan segera tiba
Sebelum bersandar di dermaga
Diharap penumpang mengemasi
kesenduan
Dari lapsan tanah kelahiran
Jangan sampai ada seujung hidung
Pun barang tertinggal di dalam jiwa
Bila perlu, dendam dan barang bawaan
lainnya
Ditenggelaman hingga di kedalaman
palung
Olle ollang. olle ollang,
Bangkalan sendu dalam dekapan
Masa lalu jauh dijelang
Syaikana Kholil sang panutan

Yang berbahagia penumpang kapal Madura
Demikian kiranya pengumuman saya
layarkan
Dari anyir pelabuhan ke laut impian
Hal-hal yang tak berkenan harap
dilabuhkan
Di bentangan subuh di tepi laut duka dan
lara
Selamat datang orang seberang
Di kebun dunyi kembang mayang
Bila hendak menari, menarilah
Panggung musim ‘kan terdedah
Pendalungan, 2015

D. Zawaimi Imron 

Dari Sumba Umbu puisi
Sumedang Priyangan puisi saini
Di Rembang Gus Mus, Dini menari
Meniti anjungan perahu Zawawi

Olle ollang, olle ollang
Geladak perahumu daun ilalang
Biar pun layar sulaman sajak
Tapi perahu terus bergerak
Ke bentangan sagara biru
Zawawi layarkan sajadah ibu
Kitari tanah leluhur se pulau
Singgahi Bugis dan Masalembu
Bayang perahu bersandar di bandar
Ambil muatan lembar cerita
Amboi, alangkah manis airmata
Iringi runcing karatjangkar
Pelabuhan kecil, di bagian arus manakah
Mesti kularungkan rinduku yang merekah
Kepada bapak, di pelabuhan Madura
ataukah ke Bugis?
Olle ollang, olle ollang
Zawawi bulan tertusuk ilalang
Ke bukit puisi mendaki ingatan
Olle ollang, Laut Karapan
Asin puisi garam mayang
Bulan Madura suar benderang
Selaputi denyut nadi sunyi
Di malam hening Zawawi bernyanyi
Tapi, seperti katamu, Zawawi.
Kasidah itu, aturannya
tak boleh didengar telinga
Agar daun-daun rahasia
semakin emmnacarkan pesona

Maka, kutulis ini riwayatmu
Diiringi denting keringat di saku
Jejakmu di semak dan batu
Terdengar lagi di jalan berliku
Biarlah bening riwayat di hati
Denyutan rahasia urat nadi
Di hati, diri, dan hari-hari
Pusii hidupmu tak henti dicari
Ada penyair sibuk menyisir
Di atas kanvas guratan takdir
Anugerah terpahat hati mendesir
Anak ibu pelukis penyair
Maka kuamini jalan puisimu
Di jalan sunyi ‘kan terdedah
Lukisan puisi suara kalbu
Hiasi dinding seisi rumah
Kepada airmata kandungan dendam
Goresan merah penyair demam
Zawawi melagu tembang malam
Celaka ‘kan berujung celah
Bila dada tak kunjung dibelah
Oleh celurit berlumur doa
Diri setia dengan derita
Tapi, seperti kata saloka, Zawawi
Jha’ nobi’an kole’nna oreng
Mon kole’na dibi’ etobi’ acerreng!

Bango’ daddiya cetakka bilis
Etembhang daddi bunto’ na kandhilis

Maka, kuamini kesunyianmu, Zawawi
Dalam diri, puisi tak enggan memberi!
Di bawah langit di punggung bukit
Tubuhmu, Madura, bertingkah genit
Kemarau dibela hujan ditimang
Panggung musim berhias ilalang
Setegak Aliif, Zawawi, kitari petang
Peluh dikayuh tinggalkan tang-batang
Ke Taman Sare pagi mengaum
Di pasa Dungkek senyum terkulum
Kain panjang lore pesisir
Beli dan pakailah saat berdzikir
Allah memang tak pandnag dahir
Senyum di hati terpancar di bibir
Matahari menepi di tepi lapak
Di lorong pasar, Zawawi, gelar sajak
Ini batik bersulam jalak
Kubawa dari kota Salak
Kalian tahu Kota Salak?
Kota kelahiran raja ulama’
Syaikhona Kholil, jangan dilupa
Utusan Allah, ulama MAdura
Merah saga meriap di cakrawala
Zawawi bergegas menerobos petang
Ke sumber mata air puisi dijelang
Sebelum peluh kering di dada
Zawawi mandi sambil menari
Di bawah bintang sebelum hujan
Zawawi mandi sambil bernyanyi
Di bawah bulan lagukan harapan
Di pematang bulan tertusuk ilalang
Padi menguning akan dijelang
Bukit doa tertunduk hening
Menyimak detak nadi bening
Di lereng bukit puisi Zawawi berkelok
Lewat merah tanah derita
Garam meriap di pelana sonok
Menari di tambak garam gulana
Madura Zawawi, Zawawi Madura
Dengan puisi celurit diasah
Lontar dihela serat terdedah
Nenek moyang Zawawi aimata

Engkaukah airmata ibu kandungku
Mengalir dari rapihan silsilah
Tubuhku laut tak berbuih
Tempat berlayar kitari hati
Zawawi menyesap manis empedu
Hangat dirasa seperti madu
Di lenganmu, Zawawi, celurit tak berulu
Menebas gumpalan keringat kuning emas
Bukan karena darah sungguh Madura
ranggas
Tapi luruh batin di jembatan Suramadu
Acuhi tangis saudara seibu
Yang tak lagi merdu

Olle ollang, Olle Ollang
Saronen melengking Madura gersang
Musim berdenting di lumbung malam
Zawawi meniti tanah garam
Mahwi Air Tawar, lahir di pesisir Sumenep, Madura, 28 Oktober 1983. Selain mengikuti berbagai program sastra di berbagai wilayah Indonesia, ia mengikuti Bengkel Sastera Majelis Sastera Asia  Tenggara (Mastera). Sejumlah karya cerpen dan puisinya terit di pelbagai surat kabar: cerpen-cerpennya diterbitkan dalam antologi bersama di antaranya Panggung Muda Penyair Indonesia dll. Puisinya termuat dalam sejumlah antologi bersama antara lain: 3 Penyair Timur (2006); Herbarium (2006; Medan Puisi. Sampena teh 1st International Poetry (2006); IBUMI: Kisah-kisah dari Tanah di bawah Pelangi (2008); dll. Kumpulan cerpen pertamanya–Mata Blater (2010)– mendapat penghargaan dari Balai bahasa Yogyakarta (2011). Buku kumpulan cerpen terbarunya adalah Karapan Laut (2014). Cerpennya yang berjudul Pulung terpilih sebagai cerpen terbaik Indonesia 2009. Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul Taneyan, 2014. Saat ini Mahwi tinggal di Tangerang.
Rujukan:
[1] disalin dari karya Mahwi Air Tawar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 27 Desember 2015