Tuna Rasa – Suatu Siang – Barisan Kami

Karya . Dikliping tanggal 20 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Tuna Rasa

Terlihat namun tak melihat
Juga terdengar, namun tak mendengar
Lajulah laju… waktu, segeralah maju
Mereka tak ada. Itu hanya penampakannya
Mereka sedang berlari merebut piala kosong
Meraih-raih, menggapai-gapai
Tanah tak lagi penting
Tanah bukan lagi landasannya
Berlari-lari… rasanya ingin melarikan diri
Melupakan wkatu yang lambat melaju
Tak berdaya
Hanya mampu menengadahkan wajah dari tanah, nyatanya
Bersama adalah memperalat waktu dan menipu ketulusan yang diberi pencipta
takdir, mereka menyiratkan
Bersatu bukanlah menyatukan. Berbeda memang harus dibedakan
Andai saja bagai burung sekarat dalam kawanan
Ia tak sendiri.
Bandung, Desember 2014

Suatu Siang

Antara terik matahari ini
aku melihat,
kelusuhan dan banting tulang
Tak tahu benar, aku sedang bersyukur atau tidak
Di antara terik matahari dan debu jalanan itu
sang penjaja tersenyum
mengiringi jalan yang tak ada putus-putusnya
menarik ‘tuk terus menatap
Tak dimengerti, mengapa merasa iri…
Manusia. Hanya terkadang ia menginsyafi diri sendiri
Jatinangor , 2015

Barisan Kami

Segelintir dari kaumnya
ingin mengubah wajah
dengan mengangkat spanduk
dengan mengepal tangan
berseru di luar pagar
Sebagian dari kami
demi negeri,
rela untuk bangsa
diuji terik matahari
Andai kau lihat
ada hanya menjilat
berteriak dengan suara perutnya
juga menampang ketamakan
Bukankah kejernihan dapat lihat kemurnian?
Jatinangor, 31 Maret 2015


Mira Rahmawati, mahasiswa fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjajaran
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mira Rahmawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 20 Desember 2015