Air mata Menjelang Tahun Baru – Elegi Rumput – Catatan Kasih

Karya . Dikliping tanggal 3 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Air mata Menjelang Tahun Baru

Seperti derasnya hujan, air mataku berguliran 
Mengurai jejak-jejak silam yang senantiasa
berdarah dan mengaduh
Di puncak bulan penuh rindu ini, aku ingin 
membalutnya dengan rintik gerimis
Dan dinginnya sunyi yang menggumpal di
kalbu
Sebentar lagi mungkin ada matahari baru
Yang terbit berwarna entah, sebab takdir
selalu bersembunyi
Di balik terai usia menuju senja, di mana
segala rahasianya
Mendedah batinku terus bertanya-tanya
Seperti di tikungan jalan, langkahku diselimuti
bermacam kenangan
Yang membayang dalam siang malam. Ada
perih terasa beriak-riak riuh
Dan begitu derasnya mengalirkan
kekalahan-kekalahan di sungai jantungku
Dalam arus sembilu ingin menemuMu
Sebentar lagi mungkin ada angin baru
Yang berdesir dan mengantarkan aku mengenal
kembali ke kelahiran
Di sini, doa-doa kumendesahkan pesonanya
Kudus, akhir 2015

Elegi Rumput

Aku, rumput yang pasrah
Tumbuh di tanah di kelilingi beton dan sampah
Siang malam terinjak jejak-jejak pongah
Dan bermacam kepentingan
Aku, rumput yang merimbun rindu
Menadah ke langit, melihat matahari terluka
Dan gedung-gedung itu menjulang perih
Di pelupuk mata
Aku, rumput yang tersisa
Tergusur keangkuhan, lalu menepi ke tepi-tepi sungai
Menyaksikan arus limbah berbau anyir
Aku, rumput yang hijau
Bertahan hidup, mengaji air mata.
Kudus, akhir 2015

Catatan Kasih

Jika engkau masih ada kasih
Mungkin tidak ada pertikaian-pertikaian di benakmu
Yang dapat meruncingkan lidah dan tajamnya
mengiris puisi
Jika engkau masih ada kasih
Mungkin tidak ada kebodohan-kebodohan
melilit otakmu
Yang dapat menyesatkan jalan dan resahnya
mengaburkan kebenaran
Jika engkau masih ada kasih
Mungkin tidak ada kebencian-kebencian
di hatimu
Yang dapat membakar cinta dan asapnya
menyesakkan langkah
Jika engkau masih ada kasih
Mungkin tidak ada keraguan-keraguan
di pikiranmu
Yang dapat membiaskan pandnagan dan
galaunya menebarkan bayang-bayang
Jika engkau masih ada kasih
Pasti tidak ada rindu  yang mengantarmu
Ketentraman.
Kudus, akhir 2015


Jumari HS, Penyair Otodidak, lahir di Kudus, 24 November 1965. Karya puisi dan cerpen banyak bertebaran di berbagai media masa Indonesia dan menghiasi berbagai Antologi bersama. Penyair ini sering diundang dan aktif terlibat dalam forum sastra nasional maupun internasional seperti Forum Sastrawan Nusantara Asean di Brunei, dan forum sastra di Palembang, Aceh, Tanjung Pinang, dan daerah lainnya. Ia aktif menjadi ketua Teater Djarum. Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul Tembang Tembakau.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jumari HS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 3 Januari 2015