Balada Sandal Putus – Membunuh Pujangga Istana – Rubaiyat Kopiah Anak Dagang – Jalan Pulang Orang Suluk

Karya . Dikliping tanggal 10 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Balada Sandal Putus

“Kalau aku mati sekali lagi,”
Kata Badrul Mustafa, “aku ingin
Dilahirkan kembali sebagai kencing
Seorang Ulama.”

Ia bercedrita kepada siapa yang ditemuinya,
Dari kamu tunggul terbakar
Sampai ke bani tempurung kelapa,
Bahwa ia akan lebih bahagia
Sebagai kencing seorang Ulama
Daripada sebagai sekuntum bunga
Di tangan seorang pecinta

Yang diberi bermacam nama.

Ia bercerita kepada siapa yang didatanginya,
Dari kabilah parang tak berhulu
Sampai ke golongan beringin tumbang,
Bahwa ia sudah tidak sanggup lagi
Menjadi potongan kemaluan seorang kasim
Yang bergerak sendiri ke sana ke mari
Sementara seekor anjing
Berlalu begitu saja di dekatnya,

Dan ia lebih tak ingin lagi,
Saat dilahirkan di negeri pemburu babi,
Ia hanya menjadi penanda sederhana
Untuk nasib buruk yang akan tiba–
Kotoran anjing yang terinjak pada pagi

Sungguh sudah terlalu lama
Badrul Mustafa ingin
Menjadi kencing Ulama.

Maka di hari kematiannya kesekian kali,
Ia merendahkan diri tak henti-henti,
“Akulah Simurgh yang dulu lupa diri,
Bahkan aku tak tahu sehelai buluku lepas sendiri
Akulah Simurgh yang dulu lupa diri,
Bahkan saat membumbung di langit petang hari
Aku berkata ini dunia bukan aku yang punya.”

Sebelum kembali ke surga,
Ia biarkan jiwanya berputar-putar di atas raganya
Seperti gasing tengkorak
Yang diletakkan di atas kobaran api kotoran sapi,

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-5 Januari 2016

Betapa tak sabar ditungunya hari kembali itu–
Saat dirinya tergenang di tengadah tangan para pendoa,
Dan menetes dari mulut ke mulut para pendosa.

(Padang, 2015)

Membunuh Pujangga Istana

Badrul Mustafa tak akan pernah memberitahu
Siapa saja yang pernah berusaha membunuhnya
Sebab ia sungguh tahu bahwa tak satu pun yang ingin
Dicatat oleh ahli sejarah sebagai pembunuh dirinya.

Tetapi kalau masih ingin membunuh Badrul Mustafa
Jangan sekali-kali dengan memberinya air putih saja
Di atas meja tulisnya, sebab ia masih tak paham
Bahwa air susu dan air tuba hanyalah umpama belaka.

(Padang, 2015)

Rubaiyat Kopiah Anak Dagang

“Ini rempah tak ada dalam risalah, tapi bukan sembarang rempah,”

Sungguh kami sudah tahu
Tuan ke sini dengan perahu
Tapi perkenankan kami serempak bertanya:
Bagaimana cara membuat perahu sebesar itu?

Ta[i sungguh Tuan perlu tahu
Engku Badrul Mustafa tak butuh perahu
Maka sudilah kepada diri kami Tuan juga bertanya
Bagaimana bisa ENgku kami tiba di Mekah nomor satu,

“Ini kopiah tak dicatat ahli sejarah, tapi bukan sembarang kopiah,”

Hanya dengan sebuah kopiah
ENgku Badrul sampai ke Mekah,
Tapi dengan apa lagi ia menyeberangi samudra
Bila kopiah itu Tuan ingini sebagai hadiah,

Baca juga:  Bersampan dengan Pecahan Kapal - Berjoged di Atas Titian Lapuk

“Silahkah, bila ingin dapat yang dicari, silakan dibeli Tuan,”

Tak akan kami tulis syair kedatangan kaum penjarah
Bila Tuan cuma mencari rempah
Tapi bila itu kopiah Tuan bawa juga
Kami munculkan nama Tuan dalam setiap syair sumpah-serapah

“Maka, bila ingin pulang membawa berkah, kinilah berbalik arah,”

Kepada lautan berombak gila diserahkan sebuah kopiah
Dengan mengucap sekali, hanya sekali saja bismillah,
Takkan guncang maka ayunlah takkan karam maka tenggelamlah,
“Semoga tak terbalik perahu besarnya, o, kaum pencari rempah,”

Takkan tenggelam maka karamlah takkan ayun maka guncanglah,
Sudah berpetaruh Tuhan pada bismillah, maka jangan berkilah,
Takkan lautan cari perkara takkan badai langgar perintah
“Maka ombak, segila apa pun, hanya sebatas bergarah,”

Selagi tak bikin mati janganlah sampai dimasukkan ke hati,”
Sebab bila sudah terkembang bismilah yang tak bertepi
Maka lautan berombak gila akan jadi tahu diri dan berjanji
Takkan terhina karena sebuah kopiah menghantar Engku berhaji,

“Dan bilamana butuh rempah lagi silahkan datanglah,”
Yang dalam dari lautan yang gila dari ombak, percayalah,
Tak akan kembali bertuah, benar-benar tak akan pernah,
Bila tak dibuhul bismillah tak disentak sumpah-serapah.

Baca juga:  Lima Kisah Mimpi Kanak-kanak

(Tebet, 2015)

Jalan Pulang Orang Suluk

— Untuk Kakanda Riki Dhamparan Putra

Badrul Mustafa kini berdiri di jalan pulang orang suluk,
Tak sepucuk pun dapat menjangkaunya
Tak setampuk pun sanggup menahannya,
“Tapi kepalanya selalu berkopiah baru,” orang kata,
Barangkali tali jantungnya masih terkebat di tunggul kayu.
“Tapi badannya gemar berganti baju,” orang kata,
Mungkin pada abu tungku, jiwanya ingin berumah selalu.

Kini Badrul Mustafa berdiri di jalan pulang orang suluk.
Pantatnya menghadap ke muka orang kini,
“Pohon tumbang tak akan menunggu,” orang bisik,
Di langit ia kata sudah punya tempat bergantung
Dan di bumi ia kata sudah punya tempat berpijak.
“Jembatan lapuk tak pernah memberitahu,” orang bisik.

(Padang, 2015)

Heru Joni Putra lahir 13 Oktober 1990 di Payakumbuh, Sumatra Barat. Alumnus Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Heru Joni Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Sabtu 9 Januari 2016