Batas Kota – Di Stasiun Bekasi – Torang yang Cahaya

Karya . Dikliping tanggal 3 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Batas Kota 

terdiam di batas kota. tak ada yang bisa dibaca, se-
lain rambu jalan dan pijar lampion. seperti denyut
matamu, ditawan gerimis yang melambai. aku
terkulai. di antara sekerumun orang yang pucat.
tapi di tubir kota ini, tak ada rombeng karat. ha-
nya syahdu lagu rock yang mengalun di tepi jalan.
kendaraan yang berjejalan, tanpa hujan. bernapas
dengan timah asap. menyelundup ke segala pengap.

barangkali ada sebuah gedung, yang bisa mengurung.
semacam ingatan pada anwar tentang sajak
Karawang-Bekasi yang bergetar. menempuh langkah
sejarah. terbata. meski di kota ini kita sibuk
berkabung dengan kesedihan masing-masing.
menjadi tubuh asing di tanah kelahiran sendiri.

di sini, cuma ada ruap ingatan. yang datang telan jang.
menempuh diri yang tak kunjung dewasa.
untuk sejumlah usia. aku memburu bekas cahaya
yang pernah bersembunyi sekian tahun. tentang sebuah kota.

Baca juga:  Lelaki yang Menggenggam Belati

2015 

Di Stasiun Bekasi 

ini sebuah jadwal. dari kepergian
yang terpenggal. barangkali cuma
kisah kereta yang terlambat. dan
aku kehilangan ingatan ihwal
warna bibirmu. dan aku bertahan
juga di peron ini. suara pengeras
yang menyelusup di celah mimpi.
dan rel terasa dingin. angin
menerbangkan kantong plastik
warna hitam. yang lebih gelap dari
rambutmu.

namun kita akan datang juga ke
sebuah tempat. sebelum ruang
tunggu di selasar itu berkarat.
dikunyah belantara gedung. aku
mengapung. bermandikan cahaya,
selembar tiket tujuan yang kusam.
mungkin aku mesti menelponmu.
agar kangen tak membatu.

Baca juga:  pertemuan muara takus - alasan lancang kuning

kereta belum juga hinggap.

2015 

Torang yang Cahaya 

-asykur fadhlun 

ia, lelaki kecil, yang mencintai sepeda dan mobil
kecilnya. atau acap meminta sebotol susu dari
masalaluku yang membeku. setiap memangkunya,
tiba-tiba aku ingat ayah. seperti dikalungkannya ringkasan
lelah dari ayah, ompung-nya.

ia torang cahaya. yang menciptakan matahari kecil
bagiku. tidak terlalu panas. hangat, seperti sebotol
susu yang kerap dipinta.

sepanjang hari, ia akan mengayuh sepeda kecilnya.
bermain di taman. menyemai debu dan daun. atau
meminta lagi sebotol susu hangat. lalu tertidur.
dengan tergesa ia berkata bahwa ia telah besar dan
menjadi seorang lelaki.

Baca juga:  Tidurlah Saja - Gempa - Hilang - Bendera

ia tertawa dengan gigi kecilnya yang menghitam di
depan.

mataku berkaca.

Edelweis, 2015



Alex R Nainggolan, dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila Jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, dan tinjauan buku terpub likasi di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, dll.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alex R Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 3 Januari 2016