Berkunjung – Kota di Tengah Malam

Karya . Dikliping tanggal 10 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Berkunjung

Aku berkunjung ke rumah guru, mengumpulkan rindu-rindu dan kasih
sayang yang kian terkikis waktu. Menghitung kembali setelah terkumpul
manamana sekiranya yang belum genap: hingga muncul wajah pagi
dan matahari
Dia menyambut sukacita kedatangan hujan yang rajin sekali hadir
dalam hitungan detik ke menit menit yang berdenyar; dan semuanya
terangkum di bawah selembar daun pisang; sambil berpayung menuju
peraduan mata senja yang magenta, kami bercengkrama dengan wangi
ragamu, yang sarat karamah juga maunah.
Aku berkunjung ke rumah guru, mencari-cari makna di balik peci hitam
yang merupawan, siapa tahu ada kalimat yang bernas muruahkan sejuta
nafsu yang tak sempat tersulam.
Setelah pulang, dia menyungging senyum sepertiga malam, tandanya
ada yang musti dikenang pada prasasti zaman: yang luluh dan luruhkan
berapa banyak keinginan yang tak sempat tertunaikan lewat takzim.
Maos, 2015

Kota di Tengah Malam

Di musim bulan ini.
Seperti biasa di malam-malam hari pusat kota, lalulalang kendaraan hilir
mudik mencari ketenangan malam sebagai teman bagi kesunyian di
ceruk hati.
Aku disuguhi penjual yang memikul harapan di benaknya. Penjual yang
memajang etalase kesepian di raut wajahnya karena ada sejengkal
rindu pada anak piatu. Tempat dimana ia tumpah bersama angin begitu
dingin membekukan tulang-temulang rapuhnya, dan bersama puisi
yang memancar ke segala arah.
Dalam malam yang mulai menua, ia bercerita tentang peran bini suami
yang
hidup serba papa dan nestapa.
namun, ia tak mencerca semesta.
tak memangkas waktu dengan bualan gusar.
Yang ia ingat hanya, kata-kata para penyair diwan, “aku hidup di tanah
gersang yang daun-daunnya ranggas karena tak ada air berkah yang
mengalir lewat nadi-nadi, namun kutak mau juga nadiku terhisap lewat
darah begitu keruh dan pedar.”
Malam mengintai lewat kelopak embun, pertanda sebentar lagi malaikat
subuh mengerumun. Di pelataran waktu, penjual itu mengunyah
berkali-kali kalimat-kalimat rumit, tak juga seorangpun tahu.
Ya. Hanya rerumput dan angin yang faham, ia mengaminkan dirinya
menjadi malaikat yang setiap pagi bisa memberikan semangkuk nasi
yang diracik dengan tangan berkah dan air mata yang mendoa. ❑ – k

Purwokerto, 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Badrun
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 10 Januari 2016