Bersama Mata Pagi – Merawat Musim – Penjaga Malam

Karya . Dikliping tanggal 10 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Bersama Mata Pagi 

Aku mengenalmu sebagai pagi yang matanya ber 
pendar ke segala penjuru mataangin, maka aku 
lesat bersama awan dan biru langit yang mendebar 
emesta: dari mata paling ranum yang kau tawar 
kan.
Aku tak ingin berbalut sutera hanya karena aku 
seorang wanita, yang pantas jadi primadona lakilaki 
pujangga, namun dari sebuah kesetiaanlah aku te 
lah terbalut lembut melebihi sutera. Maka, jangan 
tanyakan untuk apa aku ada bersama pagi: yang 
kau ada di dalam ihwal kesejukan.
Sederhana, aku ingin jadi wanita utuh dengan 
keperempuananku dengan menatap pagi yang 
matanya menyerap ribuan keteduhan yang padanya 
aku nyaman dan terjaga dengan kemurnian yang 
pasrah.
Purwokerta, 2015 

Merawat Musim 

Manakala kita menanyakan, siapakah yang pantas 
menjaga pohon ranum dan tanah yang gembur?
Maka, jawaban bagi kita adalah menjawab sendiri 
pertanyaan-pertanyaan yang alam sampaikan lewat 
air yang mengalir dari hulu ke hilir kaki. Tanpa 
kemasygulan yang perlu dipertimbang-timbang 
hingga jadikan ranggas pepohon dan retak tanah 
terinjak.
Kupu-kupu tampak senang terbang, ke sana kemari 
menjulurkan bunganya ke riuh udara yang semilir 
kan aroma tanah ke hidung dan hijaukan mata kita.
Ya. Demikianlah kita bersahaja dengan kesederhanaan 
semesta dan kearifan tetumbuhan.
Kita berjalan dari pematang yang rintih, namun 
darinya ada yang perlu dirawat dengan usia, 
dengan peluh yang luruh berkali-kali dari cangkulan 
pertama hingga kepada ribuan payah.
Merawat musim, tampaknya hujan kali ini enggan 
mengayunkan salam kepergian, tapi tak juga kita 
paham dari isyaratnya sekarang.
Dari lubuk kecil tempat dada mengempis udara, kita 
akan rasakan, semua musim akan terjaga dengan 
hidung yang menghirup kesegaran berkali-kali.
Baseh, 2015 

Penjaga Malam 

Angin-angin telah berbondong pulang menuju 
rumah paling dingin dan sunyi, yakni menuju 
rumah paru-paru pepohonan yang tiap hari adalah 
bermain-main dengan pendaran dandelion kian 
kemari melayang terbang serta kerlip kunang pada 
malam-malam yang pualam.
Bahwa senja telah datang dengan tangan terbuka, 
menyambut manis malam yang menghanyutkan 
kepedihan seharian mata mata lelah meramu ketenangan 
pada tidur pulas.
Para malaikat, silih berganti menjadi penjaga 
musim dingin kepada kemarau yang berdaur tak 
tentu. Mereka merebahkan diri semacam tawa pada 
wajah sedih terlampau dalam, dan mengendapkan 
doa-doa bagi netra yang kelopaknya kelam pada 
tanda-tanda semesta.
Malam berlalu, sampai kepada malam lagi, penjaga 
malam tetaplah sama akan mendoakan sesiapa 
yang lupa tanpa ada laknat, kecuali bagi mereka 
yang terbuat dari batu dan api, segala amarah 
tumpah ruah menjadi sumpah dan serapah.
Purwokerto, 2015 
Muhammad Badrun, lahir di Darmakradenan, Ajibarang, Banyumas, 4 Juni 1994. Tinggal di Pondok Pesantren Al Hidayah, Purwokerto. Beberapa puisinya terhimpun dalam antologi bersama Cahaya Tarbiyah (STAIN-Press, 2013), Rodin Memahat Le Penseur (UKM KIAS, 2014), Kampus Hijau (IAIN-Press, 2015), Ode Kampung Halaman (FAM Publishing, 2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Badrun
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 10 Januari 2016