Di Gunung Potong -Belajar Bahasa Latin

Karya . Dikliping tanggal 3 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Di Gunung Potong

Di Gunung Potong, keningmu jadi putih
angin timur membawa wangi palawija,
ruap kopi dan tangis bayi

Di sini tak ada beda
antara rusa belang
dan seorang panglima.
Maka nyalakan apimu, Lambuena.
Sebab tak seorang pun bernyali
menyeberangi perbatasan malam ini

Sepatah mantra paripurna
telah membuka luka-luka
yang kemarin kau sisihkan
di pesisir Taludaa
Tempat bajak laut, karang
kipas, dan liuk beludak
mengepung dan menumpas
satu pasukan tombak

Sejak topan bersekutu
dengan air pasang
Sejak palka-palka dibuka
untuk mengangkut biji-biji badam
telah aku nobatkan
kau sebagai saudara setongkang.
Saudara sedendam.

Maka ketika kau mulai ragu
dan bertanya siapa yang telah
menjadikan hidup suatu perlombaan,
aku katakan kepadamu, Lambuena:
bukan kita, melainkan mereka.

Para wu’u menulis kitab, tetapi apa
gunanya jika melanggar garis dewa
semudah menggeragas selaput lingkawa?

Baca juga:  Burung Merah

Di Gunung Potong, kita tinggal berlima
menjelang subuh akan kita bakar dupa
buat menghangatkan hati paduka

Pergilah ke sungai dan basuhlah muka
lalu tengoklah sejenak bantaran seberang

Akan kau lihat, dedaunan rontok
bagai kematian burung-burung,
dan waktu membengkok serupa jurang.

2015

Belajar Bahasa Latin

A bove majori discit arare minor

Jika rumput-rumput basah ini telah habis, aku akan ke sana. Menuju
matahari, aku tujahkan mata tenggala. Bagian paling runcing
perkakas kayu ini adalah tempat petani menitip sujud dan jiwanya.
Panen jauh, begitu pula kegembiraan. Padamu, aku belajar mendatangkan

gembur seraya mengukur kehendak cuaca. Meski derit langit dan desing
cemeti telah jadi subtil. Dan fantasi menumpul ditumpas kerikil. Aku
belajar pada yang tak lelah melewati panjang masa nestapa. Menyeret
garu guna mengurai surga di gersang ladang kata kerja.

Baca juga:  Menjelang Badai Pasir

Fructu non foliis arborem aestima

Adakalanya aku belajar sebagai pohon. Nafasku berwarna cokelat,
gugur, lalu terurai di paru-parumu. Menjadi humus; makanan buat serabut
lidahmu. Makanan buat burung-burung yang tepekur di tubuh tafsirmu.
Kau menunggu apa yang hendak jatuh itu. Cinta, katamu, jangan biarkan

terlalu matang di ujung-ujung tangkai. Sebab cacing dan mikroba yang
melata di gemeletak dadamu telah tak sabar menanti kabar dari musim
yang lamban bertukar. Bagimu, teduh adalah pembunuh. Engkau ingin
nafasku terus menerus jatuh lalu berinkarnasi sebagai burung yang utuh.

Ut sementes feceris ita metes

Di tubuhmu aku tanam kata demi kata. Rahasia demi rahasia. Juga
tunas-tunas tamsil, bakal pohon-pohon penanda amal. Sesuatu yang
tak mau kau tumbuhkan tanpa aku memulai sebelum menuai. Seorang
petani hampir selesai menggarap alegori yang belum tunai, saat mendung

Baca juga:  Kala Pramoedya Ananta Toer Memulai Hikayat Tentangku - Dendam Untuk Menikam Diri Sendiri Suatu Hari - Cinta Celaka - Pribumi

datang mengabaikan ia yang lalu tertunduk di ribaan badai
sembari menahan gemetar di sekujur tungkai. Ia teringat panen
yang gagal dan janji yang kau ucapkan lewat siklus hujan. Langit sedang
terkena wabah sakit jiwa yang berhembus dari cerobong-cerobong kota.

2015

Jamil Massa lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985. Menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Bergiat di Komunitas Sastra Tanggomo, Gorontalo.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jamil Massa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 3 Januari 2016