Jumprit – Bodoh – Yang Berlalu – Semut Jantan – Aku Seperti Puisi – Tinggal Angan – Ingin Aku Jemput Kau Malam Ini

Karya . Dikliping tanggal 10 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Jumprit

Mata air yang suci
Aku haturkan penghormatanku
dengan ketabahan
di detik-detik pencarian ketenangan
Biarkan aku menarikmu ke dalam
Saat purnama menginjak Mei
Sebagai air suci dalam perayaan Waisak
Pada guruku Buddha Sidharta Gautama
yang telah mencapai ketenangan sempurna
Aku ingin sebening permata
Basuhlah hati
Berlumutkan dosa-dosa
Tenggelamkan ke dalam
Meskipun jauh dari kepantasan

Bodoh

Demi rindu yang menyala-nyala
Seperti kuda berlari memercikkan api cemburu
Meninggalkan segala harapan
Menuju puncak penyesalan
Dan sampailah pada suatu hari
Di mana kita tak tahu lagi emaknai rindu

Yang Berlalu

Aku pergi menembus masa lalu
Melewati lorong paling rindu
Esok hidup yang lelah
Alam kejam itu sedih
Peluh keruh membanjir
Ke hulu ke hilir
Semua adalah waktu

Semut Jantan

Jauh di kaki sepi
Melangkah ragu dalam bisu
yang retak ditidurinya
oleh tubuh cemburu dan lagu
Rindu memanggil rindu
Wajah membayang penyesalan
di pantat terali kesepian
Gelap teramat pekat
Kelam tetap dalam hening
Biarkan semua jantan
Raja dari segala rindu

Aku Seperti Puisi

Aku seperti puisi
Lahir dari api cemburu atau luka yang batu
Ibuku adalah rindu, dan bapakku kesetiaan
bahkan sebenarnya tak punya orangtua
Lahir dari ketiadaan
Entahlah, tapi aku pincang
Lahir bukan pada waktunya
Aku seperti puisi
Masih setia dengan kesendirian
Tanpa kepergian yang membingungkan
Mencari teman-teman yang hilang
Semedi dalam pejam

Ingin Aku Jemput Kau Malam Ini

Ingin aku jemput kau malam ini
Dengan separuh harapan yang masih basah
Mengisi sunyi agar tak sendiri lagi
Kita pun saling melempar pertanyaan dengan malam
Siapa yang lebih dulu mengisi kesunyian?
Membawa kepergian jauh sekali
Hingga tak tahu arah pulang
Tinggal bayang hilang dalam remang

Tinggal Angan

Yang merayap senyap di malam gelap
Mengintai kepulangan yang tak tahu lagi
Ke mana jiwa-jiwa rapuh akan pergi 
Tapi
Tidak dengan yang selalu menyisakan
Setiap jejaknya untuk dikenang atau dilupakan
dan diam-diam kita menutup mata rapat-rapat
Mencari sisa bayang yang hilang dalam pejam
Rofiq Rizal: Lahir di Temanggung 6 Juni 1997. Aktif di Komunitas Menulis Pinggir Rel. Sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, fakultas Ushuluddin, Prodi Filsafat Agama.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rofiq Rizal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 10 Januari 2016