Malam di Sepanjang Jalan Cibaduyut – Pemukiman di Cicaheum – Puspa Pasirkaliki

Karya . Dikliping tanggal 17 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Malam di Sepanjang Jalan Cibaduyut

apa yang tergenag dari bola matamu
adalah kesedihan beku saat kendaraan berjajar lalu berlalu
gadis kecil peminta recehan di Jalan Cibaduyut
bajunya sobek mulutnya luka-luka

malam di Cibaduyut, bau sampah tak jua hilang
para pelancong menukar rupiah dengan sol sepatu
sepasang sepatu dari kulit, harganya melambung ke langit

apa yang tertinggal di dalam lubang hatimu
adalah kasih dari para turis yang datang
mereka tak pernah berbelas kasih padamu
tak memeberimu receh dan selalu bermuka tampang remeh

Baca juga:  Sajak Tata Ruang

apa yang terpikirkan olehmu
tak ada yang bisa menduganya selalu, hanya sol sepatu yang
berbicara dengan sendu

20.08.01.04.15

Pemukiman di Cicaheum

Malam di pemukiman Cicaheum, asap kendaraan mengantre
roda besar menggilas jalanan tanpa ampun
suara klakson bertebaran di udara
kucari amsal namamu di sana
sebab aku merindukan kepulangan dari terminal ini
aroma peuyeum lekat sekali, ada rindu yang datang dan pergi
pada jalanan orang-orang menghamba
menelusur jejak tiap harinya
malam di pemukiman Cicaheum
air menggenang di mana-mana
membawa serta lumpur dan sampah
malam di pemukiman ini adalah rumah sementara bagi para
pelancong yang karam hatinya

Baca juga:  Malang di Kalimalang - Tugu Tani - Selalu Ada yang Menyeretku untuk Sendiri

20.18.01.04.15

Puspa Pasirkaliki

Puspa Pasirkaliki, tak ada pepohonan naungi hari
panas membara berslogan kota juara
pemudi duduk dalam angkot warna hijau tua
tak ada Arimbi dalam sorot matanya
jalanan rusak oleh truk berat
sepeda roda dua membelah gang sempit tanpa nama
angkat bahumu kawan, karung tepung siap dikirimkan
bau serat karpet penuhi aroma yang lengket
tak kutemukan sosokmu dalam kemacetan ini
hingga aku terbanting dalam rindu berkali-kali

Baca juga:  Kita dan Sederet Perjalanan - Efek Hibernasi Hari Sabtu - Pengelanaan Kaum Futuris - Ketika Puisi ini Ditulis

15.14.18.04.15

Niken Kinanti, perempuan kelahiran tahun 1990 di Kinanti Dukuhseti Pati Pesisir Pantai Utara Jawa, Indonesia. Kini bergiat di Liga KaumBudiman (Bengkel Sastra Surakarta) dan gandrung Sastra Margoyoso.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Niken Kinanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 17 Januari 2016