Penghuni Hutan Larangan – Ladang Bukit Menurun

Karya . Dikliping tanggal 3 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Penghuni Hutan Larangan 

Demikianlah, di hutan itu konon,
ada sejenis makhluk hidup berkampung
dan tak seorang pun tahu letak persisnya
hanya sesekali jika ternak hilang di kandang
harimau jadi-jadian bakal jadi tertuduh
dan orang-orang menyumpah tertahan-tahan

makhluk halus penghuni hutan
juga entah di petak mana kampung mereka
kerap kali jika terdengar pasar ramai
pertanda bunian ikut di tengah balai
berjual-beli, tawar-menawar
dan akan ada saja pedagang yang rugi
meski banyak pula untung besar
begitu cara bunian berbagi keajaiban dari
pekan ke pekan

tapi, apa pun, tak seorang pun mau melangkahi
batas hutan larangan. sejak setiap anak lahir di
teratak,
dan mulai belajar menginjak lapau dan tangga
surau
mereka sudah tahu batas-batas yang tak terlanggar

Baca juga:  Buku Latihan Tidur - Minggu Biru - Jalan Kecantikan - Punggungmu - Pemeluk Agama - Meja Makan - Anak Pencuri - Perjamuan Mutakhir

semua aturan mereka tularkan
dalam percakapan para perimba remaja
dan sesekali mereka percakapkan
di lepau kopi, di tepian mandi
di mana topi dan kopiah sama saja
nabi dan judi, tawa dan gelak sedih
dibuat hanya beda angka

di masa kata bersilang
(tak kayu nyala di tungku, tapi bedil,
senapan dan kelewang) sayup terdengar
sebuah ungkapan:

hutan itu
firman tak terucapkan
menyimpan muasal
dosa dan pertobatan

Maka begitulah, para penghuni hutan
berbagi harapan dengan manusia pengolah hutan
Yang paham batas-batas
tak terlanggar.

Baca juga:  Donggala - Ombak Plengkung - Madura, Jalur Tengah

2015 

Ladang Bukit Menurun 

Penat mendaki, kami berladang
di jalan bukit menurun
Kami tanam gambir, pisang, dan mentimun
Kami sisir semak mencari mata air
nun di bawah pohon lebat daun

Kami dirikan pondok di pusar huma
Tempat menggusah hama dan burung-burung
Dangau-dangau terbuka kami buatkan pula
tak berdinding. Tempat singgah orang lalu
ke bukit atau ke lurah
ke mudik hulu, ke hilir-hilir

Di bukit ladang menurun
keringat dan cinta kami
berbuah ranum
Bagai pantun dan syair
di tangkai-tangkai padi
dan butir gandum.

Baca juga:  Kota Rawa

2015 

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Sekarang menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisi mutakhirnya, Api Bawah Tanah (Akar Indonesia, 2013)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 3 Januari 2016