Sajak Shinta – Elegi Dewi Ima – Solilokui Kursi – Solilokui Tanah – Elegi Hujan – Kidung Prenjak – Katastrofe

Karya . Dikliping tanggal 3 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Sajak Shinta

Telah kugenapkan perkara luka dari manusia paling cinta bernama 
Rama
atas kesucian yang ragu dalam tatapan matanya
Sampai api rela menyulut diri pada tubuhku
yang genap tanpa snetuh tangan Rahwana
-Aku tetap menjadi Shinta yang utuh merawat cinta dalam dada
Klaten, 18 Desember 2015

Elegi Dewi Ima

Telah aku terima benih angkara masuk ke tubuhku
Demi cinta atas cemburu dalam dada siwa yang membara
Telah lapang pula batin dan jiwa
menanti Sadewa beserta parangnya:
menebas dadaku
sampai hilang durga
sampai mati: jiwa bengis nan nganga
sampai pula sembuh luka kecewa
Padamu Siwa
cinta adalah bagian dari angkara
yang telah mampu melucuti dada kita

Solilokui Kursi

Aku berdiri dari kaki yang tabah
dari tangan seorang pemahat
dan dari keringat seorang pemikul
Aku berdiri dari kaki yang tabah
dari tubuhku yang sedikit terpagut rayap
bak siang dicibiri hujan: aku lebih suka berparas diam
Aku masih berdiri dengan kaki yang tabah
menyangga luka, pun menyangga bahagia:
dari orang-orang yang kerap bercengkramaatau pula dari orang-orang yang kadangberkalung duka

Solilokui Seoatu

Kaki kerap meninggalkan bau anyir dlaam rahimku
lebih luka, mereka lupa

Solilokui Tanah

Tubuhku rebah; tapi tabah
lebih sering terinjak, lain waktu terludah
Di musim yang ganjil, langit sesekali menangisi bumi
air matanya resap: ke tubuhku
Terlebih
ketika pohon luka
rusuknya menggugurkan dedaunan yang menua
dadaku yang selalu rela menadah tanpa lupa-lupa
Aku tanah
tempat rebah
tempat endap segala amarah
Aku tanah
tempat langsir para penandu dosa

Elegi Hujan

sesekali petir mampir
tubuh langit muram
dedikit membela angin, menarikan tubuh pohon
semakin lenggok
semakin lentik
Rintik lekas bersajak
tentang bosah yang penuh polah
tentang tanah di sawah-sawah
tentang petani yang hatinya bungah
terlebih tentang remaja yang nostalgia
Barangkali Aku
Barangkali aku adalah Hujan Bulan Juni yang ditulis Sapardi
yang lebih tabah dari apapun; perihal mencintaimu
Kau umpama kemarau yang berulang membikin gersang dadaku
Namun aku tetap menjatuhkan diri penuh cinta
Supaya langit lekas sembuh dari tubuh yang abu-abu
*Hujan Bulan Juni: Judul puisi Sapardi Djoko Damono

Kidung Prenjak

Sore mencatat ketangguhan candik ayu yang bersengkarut
bersama bianglala: pada langit
Di pepohonan prenjak bersenandung kidung rindu
Seolah menyeringai pada keadaan berpisah di masa lalu
Sesuai kesepakatan waktu
pintu telah gelisah menanti tubuhnya dijamah kutukan tamu
Dan pada kerinduan yang hendak disembuhkan pertemuan
pintu telah memasang gagang yang lebih tabah
supaya lebih tenang tuan menyambut tamu yang datang
Prenjak kembali melantunkan nyanyian
sebagai petanda untuk tuan;
sekiranya lekas sembuh dari segala kerinduan

Katastrofe

Kegirangan telah menghabisi waktu
menjadi suatu kengerian
yang justru menghabisi napasnya.
Sebelumnya; dia telah luput berdoa
kepada yang lebih dulu berkuasa
akan hidupnya
sampai tiba pagi; yang membalur tubuhnya
hanya rona mata memerah;
berlelehkan resah; tanpa pula’senyum merekah
Dia lebih dulu diakhiri; dalam penjamuan alkohol dini tadi
Barangkali sebuah kidung duka lebih suka berkerumun di atas jasadnya;
yang lebih dulu mati sebelum jiwa berkehendak mati
Barangkali pula Tuhan lebih memilih mengeksekusi
daripada dikhianati dan yang tersisa;
hanyalah sebuah catatan katastrofe
yang tak kunjung disembuhkan air mata
Klaten, 2015


Wahyu Tri Astuti: lahir di Klaten, 19 Oktober 1994. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Widya Dharma Klaten, Semester 7. Karya termuat dalam antologi puisi bersama Rodin Memahat Le Penseur dan antologi cerpen bersama Gelas Sompek.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wahyu Tri Astuti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 3 Januari 2016