Selembar Hidup – Dulu dan Sekarang – Hari Ini Aku Berharap – Bayang-bayang Siang

Karya . Dikliping tanggal 10 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Selembar Hidup 

Hari ini aku ingin menepi
Menelusuri jalanan
Semata ingin mencari ketenangan
Walau itu kesia-siaan
Jauh sebelum adam memilih
Pengasingannya dan hawa
Lebih terlena pada ucapannya
Perencanaan yang melelahkan
Ketika ingatanku tak mampu
Menjawab pertanyaan-pertanyaan
Dari kehidupan paling mendasar
Sempat aku bayangkan
Wajah ini berubah
Berganti kalimat yang lumrah
Dan nampak lesu
Ternyata hidup ini lebih meresahkan
Daripada isi dompet yang hanya tinggal

Dulu dan Sekarang 

Dulu aku dibesarkan bersama ikan-ikan
Mengeja lautan yang kelihatan seram
Seperti ombak menghantam kenangan
Dan ilustrasi masa mendatang
Terkadang aku tidak bisa menjawab
Ketika ditanya tentang masa depan
Mau jadi apa kamu kelak?
Sedangkan mataku
Masih saja menemukan kalimat usang
Jalanan tak pernah datar
Penuh lubang dan gundukan
Di mana aku harus melewati
Jalanan bergelombang penuh ancaman
Mungkin karena itu
Kenapa orangtuaku selalu khawatir
Melihat aku yang seringkali tergelincir
Dan terperosok pada lubang kegagalan
: walau itu keberhasilan yang mendatang
tapi duniaku berubah
Ketika suaraku mulai menggema
Menyusuri jalanan
Yang tak lagi berlubang
Hingga membuatku lupa
Bahwa jalanku masih panjang
Sekarang aku tak usah
Melawan segala kenangan
Dari masa kecilku yang suram
Namun pertanyaan itu
Tetap saja berbisik lirih di telingaku
Akan jadi apa kamu kelak?
Kutub, 24 Desember 2015

Hari Ini Aku Berharap  

Hari ini aku berharap
Agar engkau tetap menetap
Walau jarak memaksa engkau
Menghitung
Akan meter yang bakal kau lalui

Baca juga:  Sebelah Tangan untuk Ibu

Jalan bergelombang dan berbatu

Adalah keindahan yang melelahkan
Serta batuan basah
Sengaja mematahkan segala diam
Menjadi perjalanan panjang
Ada yang harus kujaga
Selama engkau masih dalam bayangan
Sehingga engkau pun mengerti
Betapa nadi ini akan tetap berdetak
Dan degup jantung masih menggertak
Bersama cinta yang mengalir dalam jiwa
Namun gemuruh rindu
Tak mampu kupendam
Setiap saat mengepak ketenanganku
Pada sebaris nama
:namamu

Bayang-bayang Siang

Di siangku yang sendirian
Aku mengukir bayang
Bersama aroma tanah yang basah
Ditemani gerimis dan angin semilir
Awalnya aku mengira
Ini pertanda baik
Dari ingatanku yang mulai lepas
Namun semuanya hilang
Bersama bekas gerimis yang menggenang
Lalu perlahan menyerap
Ingatanku yang mulai pulih
Ainul Amin: Lahir di Madura. Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ainul Amin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 10 Januari 2016