Tuhan di Lubang Batu – Kepulangan – Ojhung

Karya . Dikliping tanggal 31 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Tuhan di Lubang Batu

Berselimut gelap merenung di bawah atap
Angin menebas serupa pedang
Yang datang kusangka diri-Mu
Ternyata hanya dingin berbisik
Dan aku makin gigil ketakutan
Barangkali di hutan
Di kesepian kusapa alam
Aku tanya di mana tuhan
Ada kerik di lubang batu
Sebuah zikir kepada-Mu
Kau tak kutemukan di situ
Ternyata Kau sembunyi di hatiku
Malang 2015

Kepulangan

Telah kurenangi wkatu dari kemarau ke hujan
Musim demi musim ku amini dengan doa
Dari kejauhan aroma ikan bakar sudah mulai terasa
Aku terbang bersayap waktu
Berharap pelangi tadang di bibir ibu
Di rumah kuucap salam
Kuketuk pintu rindu
Ibu datang dengan senyum bermekaran
Mengusap ubunku penuh kasih sayang
Malang, 2015

Ojhung

Seperti kilat cambuk rotan saling menyambar
Di arena dua orang gagah saling adu kelihaian
Ada yang menepis dengan cepat menghindar
Ada yang luka meneteskan darah dari tubuhnya
Sebab rotan seringkali mendarat di punggungnya
Budaya yang lahir dari kering-kemarau
Kemarau panjang datang ojhung dilaksanakan
Memejamkan mata, kakek tua mengucap mantra
Hujan mengalir dari setiap luka cambukan
Tepuk dan sorak penonton saling berjingkrak
Meski luka bukan berarti hujan
Tepuk dan suara bukan berarti kebanggaan 
Budaya juga bukan mutlak kebenaran
Padahal hujan dan kemarau sama saja
Bila luka yang ada maka perih yang dirasa
Malang, 2015


Nikris Riviansyah, lahir di Batang-Batang Sumenep Madura, menulis puisi. Mahasiswa Unitri Malang, Jawa Timur.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nikris Riviansyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 31 Januari 2016