Yang Tertinggal di Tahun Kemarin Sebuah Perayaan – Sebuah Perayaan – Orang-Orang yang tak Pulang

Karya . Dikliping tanggal 10 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Yang Tertinggal di Tahun Kemarin 

Dalam upaya yang kesekian ini
katakanlah kepada belalang, jangkrik, dan
kupu kupu
pergilah ke semenanjung
atau ke lembah-lembah khatulistiwa

Karena,
mulai hari ini, kita akan membersihkan ladang
menggali tanah-memutus segala urat
sebab yang tertinggal di tahun kemarin adalah
sepah
dan kita menaburnya di ladang permulaan

Sleman, 1 Januari 2016 

Sebuah Perayaan 

Ada sesuatu yang masuk ke kamarmu
dia melompat dari celah-celah kaca jendela
aku melihatnya
benar-benar melihatnya, bahkan dia sempat
menjatuhkan sesuatu
barangkali itu senyum dalam bentuk lain
sebab aku merasa tak asing

Tapi, mengapa ia lewat jendela
sedang pintumu terbuka menganga
sebab aku tahu, ini malam terakhir bulan keduabelas
berkuasa
karena itu kau biarkan pintumu terbuka
agar semua yang menikmati,
datang dan masuk tanpa mengetuk pintu
Tapi,
apa yang masuk ke kamarmu
ia lewat jendela, aku benar-benar melihatnya
Oh,
itu sepi, jawab diammu
(selalu ada bau bangkai di setiap celah pergantian
waktu
mungkin itu harapan yang mati terinjak hari dan terpaksa dirayakan)

Baca juga:  Pelajaran Bahagia dari Putriku - Berita Pagi - Kebahagiaan Putriku Membaca Buku

Sleman, Desember 2015 

Orang-Orang yang tak Pulang 

1)
tetaplah di sini
meski penjurumu habis dibaca waktu
tunas-tunas mawar-pun belum berdaun
tiada guna kau penggal barang satu
untuk dibawa pulang dan tanam di depan rumah
maka, tetaplah di sini
jadilah batu sebentar saja
2) 
jangan,
jangan paksakan
dayungmu terlalu rapuh
tak selamanya pula jalan mengarah pulang
ada kalanya hanya sebatas persimpanganpun,
musim belum menunjukkan aroma panen
sebutir bijipun tiada yang bisa dibagi
maka, jangan paksakan
larunglah sungai terlebih dahulu
3)
belum,
belum waktunya
kicau burung dari kejauhan terdampar di laut
selatan
-terhalang bukit-bukit kapur
getar panggilan pulang mengembun di bawah daun
dan restu terperangkap kabut
sudahlah, tiada guna menyulut api
sebab kau hanya sebatas lilin
terlalu cepat untuk meleleh
4) 
tetaplah di sini
diam-diam, kita ganti nama hari

Baca juga:  Wasiat Penyair untuk Padma - Untuk Lelaki yang Terbunuh Sepi di Surga - Menatap Rindu di Cermin

Sleman, Desember 2015 

Boy Boangmanalu lahir di Sidikalang, Sumatra Utara, 20 Maret 1993. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Geografi UGM Yogyakarta. Menyukai filsafat dan sastra, saat ini sedang mengelola komunitas Sastra Serinai di Sleman, DIY.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Boy Boangmanalu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 10 Januari 2016