Ayam Belum Pulang – Rumpun Bambu Ujung Kampung – Mengambil Batu Kali – Menanam Doa

Karya . Dikliping tanggal 21 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Ayam Belum Pulang 

senja telah matang
dan malam mulai mengintip dari balik kandang
namun ayam ayam belum pulang

suara hari mulai mengendap
telinga langit pun makin senyap

apakah mereka lupa pada jalan
atau memang sengaja singgah
ke dalam berbagai kisah di dunia sebelah

Bekasi, 2014 

Rumpun Bambu Ujung Kampung 

seorang nenek tinggal sendiri
di rumahnya yang tanpa lampu
dengan halaman dan pekarangan luas
di beberapa jarak tumbuh perdu

setiap sore ia nasihati anak anak kecil
yang semua dianggap sebagai cucunya

Baca juga:  Masih Kuingat - Pulang ke Kota Kelahiran - Menuju Sebuah Alamat - Kutuk Pertemuan - Sajak Sebelas Tahun Pernikahan

”bila lewat dekat rumpun bambu,
ucapkan salam kepada penunggu
agar kalian tak celaka atau diganggu”

seorang bisu lupa pada petuah itu
lewat dekat rumpun bambu tanpa permisi
sampai di rumah ia demam tinggi

tiga hari kemudian demamnya reda
ia menjadi piawai berkata kata

Bekasi, 2014 

Mengambil Batu Kali

bapak dulu mengajari kami
cara memilih dan membawa batu
di kali yang mengalirkan waktu

untuk menutup halaman
pilihlah batu yang memanjang dan lebar
biar mudah diatur berjajar

Baca juga:  Dari Rindu ke Pilu - Suratan Takdir - Masjid - Khianat

buat mengisi fondasi rumah
pilihlah batu yang kasar namun bulat
agar cukup merekat jadi penguat

untuk membawa batu
ambillah dengan kedua tanganmu
lalu letakkan di pundak
dengan satu telapakmu memegang
bagian atas batu

jika batu bulat, kau cukup memegang dengan ringan
jika batu pipih, kau mesti lebih mengatur keseimbangan

demikian bapak yang rajin mengajar
tentang batu yang kelak menjadi pijar

Bekasi, 2014 

Menanam Doa 

sebelum kelahiran kita
diam diam ibu telah menanam doa
di belakang rumahnya

Baca juga:  Rebana dan Serunai - Roti Beraroma Kopi - Janabijana

setiap malam ia menyirami dengan air mata
tumbuh pohon dengan batang jenjang
merindang dengan dedaun cahaya

kita kini di kejauhan usia
waktu terberati dengan abai kota
sedangkan ibu tak henti tetap menjaga kita

Jakarta, 2014 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Setyawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 21 Februari 2016