Bukit Jagung Lamaholot – Obituari Buluh – Meratap-ratap di Dapur One

Karya . Dikliping tanggal 21 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Bukit Jagung Lamaholot

Bukit jagung
Apakah hanya sampah jagung yang ada di bukit jagung
Detak yang ingin kudengar
Debar yang ingin kuraba
Apakah bukan apa-apa apakah bukan siapa-siapa
Kecuali daun-daun jagung
Kecuali bunga-bunga jagung
Kecuali angin yang bermain-main mencari dirinya?
Kutemui desa-desa yang nestapa
Abu tempurung
Sepah kelapa
Kukerik lidah tetua yang asin
Kukukus isinya
Tak kuhidangkan
sampai arwah-arwah yang bersembunyi memohon ampun
dalam koda yang menghiba
Aku mengaku dosa
Telah kubawa orang-orang ke dalam mimpi buruk
peledang pecah
paus kelaru yang terluka
Kubiarkan mereka terceguk
di Laut Sawu yang mengamuk dalam pekik elang laut
Aku juga yang membawa mereka ke kubur penyihir yang keji
Perawan gua berbulu
Kompas yang dikutuk
Kutinggalkan anak-anak gadis bersama gunting di tangan seorang
kapitan mabuk
Aku tak berdaya
Ketika kapitan itu mencukur bulu-bulu di tubuh mereka
Ia pakaikan mereka kain dan baju
sidok lokan
cincin selaka
Ia ikat kening mereka dengan perisai bulan yang hampir susut cahayanya
Aku mengaku dosa
Dari bukit jagung yang telah layu aku mengaku dosa
bagi tiang-tiang janur yang ditinggalkan
bilik pengantin yang runtuh
kumbang pohon kenangan
Sepucuk surat yang tak kan sampai masih kutulis
di sela-sela isak yang tertahan-tahan
Aku sendiri yang membacanya
Detak yang ingin kudengar
Debar yang ingin kuraba
Aku sendiri yang mengantar ke penyeberangan
Kusiapkan untuknya bis laut
tas kulit jinjing
titian papan ke geladak
Kubiarkan ia pergi
membawa janji yang belum sempat kutunaikan
belis yang belum kuisi
isi kebun yang belum dipanen
Dan hewan-hewan ternak yang masih lepas
Aku sendiri yang akan menjadi sabananya
Aku sendiri yang akan menggembala alang-alang
lebah gurun
pelepah lontar yang memapah cakrawala
Aku sendiri yang akan menopang dusun-dusun
dengan batu matahari
golok perabas
gagang cangkul yang lecet digenggam peluh para petani
Aku sendiri yang mengayunnya
menugal benih
menabur pupuk
menunggu hujan tiba
Supaya dapat kutelanjangi sajak yang nestapa
Detak yang kudengar
Debar yang kuraba
Agar tidak menjadi sampah pesta
Tapi tumbuh menjadi bukit-bukit jagung yang sedang tumbuh
Bukit-bukit yang menjunjung bukit-bukit
Bukit-bukit yang menghimpit bukit-bukit
Bukit-bukit yang meletup serupa kayu puntung
di ambang subuh
Aku sendiri yang menyulutnya
Aku sendiri yang mendaki
Lalu muntah di puncaknya
2015

Obituari Buluh

Buluh-buluh
Selamat jalan
Pergilah bersama rambut nan sehelai
Pergilah dari tempat engkau jatuh
Pergilah membawa miang badan
Dari rahim Pagaruyung
Tanah asal nan selempung
Pergilah bersama badai
Bawalah amuk
Bawalah puing-puing
Bawalah kusut yang tak kan terurai
Peniup buluh
Selamat jalan
Pergilah ke pucuk yang tertinggi
Laut yang terdalam
Jemputlah induk buluh
Jemputlah batang terendam
2015

Meratap-ratap di Dapur One

Ke mana perginya puntung di tungku dapur One
Ke mana abu yang jernih
uban yang putih
Angok talang yang lapang, bagaimana ia pulang
Apa terang baginya api
Apa cukup baginya ratap yang dikekang
dengan seutas tali sunyi
Ada terbaun aroma garing bada kering dioseng-oseng
Pucuk sikujur penukuknya
Petai mentah digatok
Asam limau kapas yang harum diracikkan ke lado kutu
yang amat halus gilingannya
Menitiklah airmata
Mengejanglah ingatan kepada orang dapur yang menukar dapur
dengan dapur yang tak ada puntungnya
tungku dengan tungku yang tak memendam abu misal
Ke mana perginya larut malam yang lincah memancak bunga-bunga
Kaos lampu petromak yang jatuh karena terkencang memompanya
Mengapa hanya tinggal sasaran kosong
Mengapa langkah jadi telanjang
Hingga kaki galembong sejantung betis
kini naik ke kerampang
Kenapakah kita
Kenapa ambek dan gelek tak berguna
Kenapa sintak yang lembut menjadi kasar bersapa-sapa
2015
Riki Dhamparan Putra lahir 1 Juli 1975 di Talamau, Sumatera Barat. Buku puisinya antara lain Mencari Kubur Baridin (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Dhamparan Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 21 Februari 2016