Dari Ujung Kaki Kabut, Rindu Datang – Sepanjang Pasar Baru – Perantau

Karya . Dikliping tanggal 28 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Dari Ujung Kaki Kabut, Rindu Datang

dadaku dipadati asap knalpot
bising klakson
celoteh inang dan tulang
bau sampah di pinggir jalan
terik matahari yang nyengat
petang yang selalu datang terlambat
dan jalan-jalan yang dipenuhi teriakan sopir angkutan kota
harus diapakan perasaan seperti ini?
jika setiap sadar, wajah ibu dan bapak membayang
membentuk lengkung pelangi yang samar-samar
seperti gerombolan sepi
menghuyung tubuhku ke kanal-kanal yang tak kukenal
lalu pergi
meninggalkan badai
Jatinangor, 2015

Sepanjang Pasar Baru

siang yang terik, orang-orang berkerumun
menjinjing ingatan, keinginan, kerinduan,
kebencian sambil menghambur-hamburkan pertanyaan
sepanjang jalan yang diisi replika masa lalu
lenasku dipenuhi montase
ia mengantar berbagai kenangan
untuk pertama kali, kau menelan mentah-mentah sepi
yang menahun di antara jari tanganku
udara ketika itu, seperti detak jantung
lebih riuh dari badan angkutan kota
aku masih ingat bagaimana kau meluruhkan segala rindu
dan dengan sigap mengisi separuh dadamu,
untuk perpisahan selanjutnya
aku lalui lagi jalan ini,
kau masih di situ, menatapku dari jauh,
melambaikan tangan pada perpisahan,
lalu melambaikan tangan sekali lagi untuk pertemuan yang sebentar
Jatinangor, 2015

Perantau

pagi-pagi benar, kudengar suara ibu seperti desing peluru
menembus kabut
tapi sudah harus kususuri lagi jalan ini
di antara sisa keramaian semalam,
atau bekas ciuman sepasang gelandangan
jauh di dalma tubuhku, sepi memanjang
menembus urat-urat dan kelennjar
tapi segandeng mata dan seisi kepalaku
tak bisa bernego apa-apa
huruf-huruf berjatuhan dari langit
menyusun rangkaian nama ayah dan ibu
kadang bersama hujan,
atau matahari yang malu-malu
aku harus berjalan, seperti suara ibu
menerabas waktu
dan rindu yang bersumbu-sumbu.
Jatinangor, 2015


Sartika Sari, kelahiran 1 Juni 1992
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sartika Sari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 28 Februari 2016