Kesaksian – Nafas – Rembang

Karya . Dikliping tanggal 24 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kliping Sastra

Kesaksian

Aku melihat; kematian itu begitu dekat
Begitu mudah, jiwa diterbangkan
Siang malam, bagai saksi yang sepi
Adakah hati, dapat menjawab?
Dari setiap nafas, – nafas nan hilang
Kematian di mana ruang
Kesunyian telah memutar segala
Dari setiap, kenang yang ada
Kehilangan, kesendirian, sesal,
Sepasang jalan, hitam berjejal
Bandung. 19.0215

Nafas

Dan telah aku ceritakan 
kepadamu. 
Pada sepoy, berlalu-lalu
Pada jejak, -jejak, tak bernisan
Pundi-pundi — sunyi, kematian
Papa, pada do’a-do’a
Nafas-nafas, ranggas sudah
Bandung 10 Februari ‘15

Rembang

Masih di sini, menantimu
Berteman belatung dan harapan
Waktu bak wranggana lalu
Tembang-tembang kesunyian.
Satu persatu, daun luruh dan kering
Kemarau; masih sisakan senyummu
Tak kerontang, meski ladang mengering
Masih tertanam, beserta rindu.
Masih di sini, menantimu
Bagai spora mengharap tumbuh
Kesunyian mengasingkanku
Pilar-pilar keroposkan rapuh.
Ada rindu pada harapan
Kematian sangatlah hitam.
Bandung 06 Februari ’15.
Dian Rusdi, lahir di Bandung pada tahun 1980. Puisi-puisi dan cerpen-cerpennya terkumpul dalam beberapa buku antologi. Aktif menulis puisi dan artikel di blog dan Facebook. Saat ini juga aktif menjadi pengurus di salah satu rubrik majalah online.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Rusdi
[2] Apresiasi dan terima kasih kepada penulis yang telah berkenan mengirimkan karyanya