Pendongeng – Pedang dan Perisai Perang

Karya . Dikliping tanggal 28 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Pendongeng

                                      __Bagi Raedu Basha dkk

kami percaya, segala yang ditetau kembali tumbuh,
dan segala yang menjulang akan kembali merunduk

kami pun menunggu embun segar di pucuk-pucuk,
dan kemurnian daun-daun tembakau, getah karet

aroma damar, yang tercatat dalam kitab dan traktat,
bau kopi, wangi cengkih, rempah yang beraroma kuat

kami percaya, segala yang ditebas kembali meranggas,
dengan segenap kesungguhan, rebana ini kami tingkah

suara yang akan menggetarkan orang-orang Bhalanda,
gemerincing-gemerinc¬ing asahan celurit tanah Madura

kami jaga rimba ini, dengan sepenuh cinta yang tak terkata,
kami tegakkan sekolah-sekolah dari cinta yang pernah tergadai

tak ada pedang di sini, kami tak suka perang di tanah ini,
tersebab hikayat kami ialah mantera-mantera Sakera

membelah tanah, merandai sungai, menggecak ombak,
menggoyang gelombang di dadamu, di dapurmu yang runtuh

penangkal amuk gunung api di pulau ini, perisai pada perang,
dengan nada sumbang, dari segenap depang dalam dada Sakera

pada suhuf-suhuf kitab sejarah dan peci hitam ini,
ada huruf-huruf dan ayat-ayat tua, yang membela kami

Baca juga:  Kambuh - Gelap - Pertemuan Pertama

berdesing-desing kata-kata kami, di pucuk-pucuk ombak,
bagai penyair yang mengigal badik jadi kata dalam sajak

dari pulau-pulau timur, dari pulau raksasa, mirip begu yang lapar,
kami mendengar langkah kakinya perlahan-lahan bergegar

ingin melahap tanah ini, ingin menelan semuanya,
lidahnya sudah sampai ke depan pintu rumah kami

kami selalu waspada, orang-orang kota bisa menjelma rupa apa saja,
menelan jembatan, memanggang hutan, membikin pelabuhan, tambang

kami patut meragukan klerek-klerek yang dikirim dari pulau-pulau jauh,
seperti ganas harimau ompong tua yang mengaum hendak menerkam

padahal cinta kami ialah rasa lapar yang tak gentar di depan zending-zending,
meskipun kami kerap dipulun dan dipilin segenap keyakinan nyinyir para penyihir

kami tetap percaya, segala yang ditetau akan kembali tumbuh,
dan segala yang ditebas kembali meranggas, yang menjulang

akan kembali pulang ke haribaan Sakera yang mulia; yang jelata.

Pekanbaru-Padang, 2016

Pedang dan Perisai Perang

perang telah sejak lama selesai,
telah kupulun pula segala perisai,
yang pernah terabaikan pedang,
pedang pada kilat matanya,
mata yang cuai pada tajam,
tajam yang lupa pada batu asahan,
batu yang alpa pada gesekan,
gesekan yang tak perduli sepi,
sepi yang mengiris-ngiris janji

Baca juga:  Jalan Pedang - Bunyi Pedang dan Janggut

bukankah kau juga yang menyatakan,
perang terhadap kaumku di muka sultan,
kau pilin segala yang belum terjalin,
kau jalin benang merah hitam putih,
yang dititiskan datu berjanggut pasi,
biar segala tajam bersimpul ke mata pedangmu,
dan aku masih menggenggam pedang sana lenggam,
yang dititiskan moyangku dari selatan,
bukankah kau juga yang menghardik datu dan hulubalang,
yang terpaksa menjadi sekutumu,
padahal kau hanya memupuk cemburu pada sultan,
hilangkanlah tondi hitam dalam dirimu,
juga igau pada wahyu yang selalu hendak kau tikam

meski gigil mengigal, aku datang padamu,
dengan sebilah pedang di tangan kananku,
dan segala risau telah genap dibekap datu dari kaummu,
juga dendam penujum yang dibawa dari sejarah masa lampau,
yang dijarah zending-zending dari eropa

pedang ini kubawa dari sejarah masa lalu,
yang pernah dihadang datu dan hulubalang,
yang kurampas ketika kemaruk perang berkecamuk,
kau tentu saja belum memunggahnya,
tentang hikayat raja-raja dengan tongkat tengkorak kepala

tapi ketahuilah, bahwa kejayaan yang pernah bercahaya di Sipirok,
hanyalah sekadar umbar, igal yang mengigau dari mulut jenderal,
dan sisa-sisa bau mesiu dari meriam tombong,
bekas peluru yang pernah meluruhkan beribu tubuh,
yang tak dibaca anakmu di selatan, usai pertempuran

Baca juga:  Tanah Kita - Tanah Tuan - Puisi dan Aku - Anak-Anak Masa Depan

tak ada yang diwariskan, kecuali pedang dan perisai,
hunderbluss dan bambu orang melayu tak ada di sini,
meriam tombong di museum belanda,
patung-patung, guri-guri, buli-buli dibawa ke eropa,
kita hanyalah klerek dan inlander kretek,
sisanya bernama rempah telah dijarah sejak lama,
dan semenjak perang usai,
telah kupulun pedang dan perisai dari amuk sansai,

kupilin pedih perang yang kerap menggilas dalam diri.

Jakarta-Pekanbaru, 2015


May Moon Nasution lahir di Singkuang, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 2 Maret 1988. Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya May Moon Nasution
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 28 Februari 2016