Petilasan Grudha – Sebuah Ingatan

Karya . Dikliping tanggal 14 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Petilasan Grudha

– Sunan Prawata

Panas matahari cuma sampai di
Rimbun daun. Tepian kolam
Tak mengenal kemarau

Parau gagak dan risau prenjak
Berjatuhan dari dahan gayam
Dari batang-batang nyamplung
Dan akar-akar beringin karebet
Yang menjuntai

Telaga luas di bawah gunung
Disinggahi belibis, pelopel, blekok
Cangak, kuntul, dan bangau

Terbuat dari apakah kenangan?

Sebaris nama barangkali cuma dikenal
Dalam pahatan nisan yang lembab
Berlumut atau di batu-batu yang
Ringkih dihajar kemarau

Baca juga:  Bagian Dari Kinanti - Pandansari - Persinggahan - Di Pendapa Datuk Bahni

Magelang, 2015

Sebuah Ingatan

Langit jingga ketika Magrib hampir tiba

Majapahit runtuh, tapi bata-bata
Gapura utuh dengan ukiran rumit serumit
Akar beringin berpilin yang melilit menjuntai
Ke tanah dan daun-daunnya rimbun rembuyung
Menaung

Di muka pura sepasang patung anjing berjaga

Setelah berkeliling cepuri, lalu berwudu
Gathak azan dan Gathuk qamat

Kelam menimbun kolam
Anggrek, andong, argolubang,
Noja, sekar nala,
Nagasari, cepaka yang harum,
Claket, dan bunga rajasa

Baca juga:  Pertemuan yang Mengejutkan

Ruken, ragaina
Klurak, kalak, kanigara,
Kemuning, kenanga,
Delima wantah mengurai harumnya
Dilem, ngambartluki, seruni, wungnyan
Wratsari yang tajam menusuk,
Pacar cina dan pudak menguar

Ia teringat adik bungsu yang tiap pagi
Mengajak bunga-bunga berbicara
Yang pandai mengurai aroma rempah
Menjadi wewangian juga sebagai bumbu
Masakan

Magelang, 2015

Hasta Indriyana, lahir di Gunung Kidul, 31 Januari 1977. Buku puisinya berjudul Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (2003) dan Piknik yang Menyenangkan (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasta Indriyana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 14 Februari 2016