Stasiun Schiphol – Rotterdam yang Dingin – Menikmati Kopi Lampung – Karel Doormanstraat – Mencintai Malam

Karya . Dikliping tanggal 14 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Stasiun Schiphol 

menunggu kereta tiba 
di schiphol bawah tanah 
rotterdam tak terbayang 
usai musim gugur 
ingin merangkulmu 
6.11.2015


Rotterdam yang Dingin 

turun dari kereta intercity 
di rotterdam yang dingin 
aku bersijingkat meski 
tak mampu menghindari 
dingin dalam gerimis itu 
tubuhku bagai beku dalam 
11 derajat, engkau hanya 
memberi kunci (apartemen) 
lalu pergi. “bukalah, rumah yang 
selalu tak dingin,” katamu 
karel doormanstrat bersebelah 
dengan kasino, aku pun menapaki 
tangga setelah lift mengurungku 
: seakan ingin membakar tubuhku 
sebuah kota tua, pelabuhan terbesar 
di dunia: rotterdam membasuhku 
dengan gigilnya 
betapa, tibatiba aku merindukannya, 
perempuan yang memelukku pada 
malammalam ketika aku kedinginan 
sungguh, aku begitu rindu 
bukan kepada salju 
dan sekeping roti berlumur sayur 
dan mentega… 

Rtdm 6 November 2015 


Menikmati Kopi Lampung 

segelas kopi mengepul pagi ini 
menari dalam gumul kabut 
di pucuk gedunggedung 
di suatu sudut kota tua 
tanpa kau. tiada senyum juga 
celotehmu; sebelum laut 
melompati dam 
memaksaku berenang 
kuhirup berkalikali kopi 
yang kubawa dari kebun tamong 
seperti juga permah diangkut 
para.pedagang eropa 
beratus tahun silam 
ditumpuk bersama rempahrempah 
kuhirup tapi bukan lagi 
sebagai anak duli 
yang meringis di bawah kaki 

7.11.2015 


Karel Doormanstraat 

: bersama Asjone Martin Sikumbang 
langit seperti luruh dan kuingin 
tangkap kabut putih yang diam 
di kelopak mataku. serupa kapas 
dingin di tubuh. ada getar meski 
tak bisa kuraba maut yang tiba 
di jalan karel doorman ini 
aku menghimpun kata tapi tak 
juga tersusun namaku 
betapa sulit menyusun kalimat 
dalam gigil ini, selain curiga 
dan benci. tanah air yang kurindu 
serasa cepat lesap. namanama 
kawan menjelma jadi lawan. pisau 
tumbuh di manamana, bagai burung 
terbang bebas: menajam mata 
amat merah. — kau penujum suci 
kini jadi penujah. menubuhkan 
amarah – 
silangkata, warna jalan berdarah. kau 
menulis pisau dan luka. kuantar perban 
membalut dendam, menutup mata 
pisau. “jadilah tunanetra. gelap semesta, 
benderang di hati!” kalimat itu 
sebagai pembuka, 
mula meniti. setatap kita. di mata 
meluap embun 
8 Nov 2015 

Mencintai Malam 

ada yang tak terucap: pesona 
lalu kuburu setiap pasirpasir 
yang bergerak oleh ombak 
merekam tiap denyut 
ada getar tak terkatakan: cinta 
kucari hingga pantaipantai di sini —
pasir bogak, teluk nipah, dan…– 
kau tumbuh di taman 
dalam senandung lagu 
dan irama puisi 
di arena pangkor kita jadi penyair 
mencintai malam yang rebah 
di sini, kau lagukan rindu 
aku rekam dalam syair rindu 
selalu ingin kembali 
ingin pulang ke pangkor 
2014-2015 

Baca juga:  21 Menit Yang Memburu - 22 Terjaga Karena Panggilanmu - 23 Di Pintu Kamar - 24 13 Lembar

Isbedy Stiawan ZS, lahir di Tanjungkarang, 5 Juni 1958
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Isbedy Stiawan ZS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 14 Februari 2016