Teman Sebangku – Perempuan yang Menanam Cinta di Dadanya – Rumah

Karya . Dikliping tanggal 7 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Teman Sebangku

: Dewi Sartika

kau titipkan keresahan tak berkesudahan selepas kau pergi
dari pengasingan, Dewi.
padahal seharusnya kita masih bisa bertemu
dan mengurai kerisauan ini sekali lagi.
setiap pagi setelah bangun tidur
di kepalaku berjejalan wajah bocah-bocah putus sekolah
menuruni bukit menuju pasar, perempuan buta aksara
yang memanggul kayu,
serta jalan berbatu yang mereka tempuh dengan peluh
kekhawatiran yang panjang itu mestinya masih bisa kita selesaikan
dalam sebuah perbincangan di sebuah bangku taman
di sudut kegelisahan kita
sekali lagi
lalu kau mengajari aku cara menulis surat pada dunia
sambil sama-sama bertukar rencana tentang perubahan, saling menyeka
tangis
dan saling memupuk harapan

Baca juga:  Sajak buat Bapak - Datanglah Kau Padaku - Sajak-Sajak tentang Keinginan

(Cicalengka, 2015)

Perempuan yang Menanam Cinta di Dadanya 

: Inggit Ganarsih

fajar bar saja singgah
dan perempuan itu masih menyimpan wajah kekasih
yang datang mengetuk pintu waktu beberapa purnama lalu
ia merasa musim kini tambah layu dan
kakinya seperti memijak muasal perjalanan
menuju Banceuy dan Sukamiskin
kepulangannya kali ini menjadi hujan yang turun membasahi
sedemikian jauh perjalanan terjal.
terlanjur tumbuh jutaan kembang di antara aroma tanah basah
kampung halaman dan
kenyerian yang tak lagi ia kenal
waktu pelan-pelan menjauh bersama bertahun perpisahan dengan kekasih,
cinta yang terempas dan seorang perempuan muda
yang akan menjahit bendera pusaka.
gerbang telah tertutup dan air matanya telah mengering sempurna
kini ia pulang membawa cinta yang masih ia tanam
di dadanya.

Baca juga:  Air Mata Selangkangan Pelacur - Kisah Kutukan Perempuan Waktu - Kisah Rahim Pelacur

(Cicalengka, 2015)

Rumah

tunjukkan saja ia sebuah rumah,
tempat yang hangat mengurai semua lelah
setelah terapung di samudra waktu, terbuang di jalan raya
kabarkan padanya sebuah pintu yang terbuka
dan memperbolehkan tubuhnya mencari dekap ibu pada dinding-dinding batu
sebab ia telah berjalan jauh dan perlu berteduh dari
perasaan terusir dan tersisihkan.
biarkan ia singgah di sebuah rumah yang menyediakan pelukan lebar
bagi kakak adik dan
jiwanya sendiri,
bacakanlah saja dongeng-dongeng tentang limpahan kemungkinan,
doa-doa yang menyudahi semua kecemasan, dan
masa depan yang jauh dari
kebencian.

Baca juga:  Surat Debu Pada Air - Aku Hanyalah - Damai - Malam Rindu - Hening - Leburan - Malam Likuran - Subuh -

(2015)


Nurul Maria Silsilia, mahasiswa Sastra Kontemporer Universitas Padjajaran. Kini bergiat di LSM Frekuensi Cicalengka.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nurul Maria Silsilia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 7 Februari 2016