Jalan Pedang – Bunyi Pedang dan Janggut

Karya . Dikliping tanggal 27 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Jalan Pedang

dibalik dua jalan yang terus menikung ini,
selalu ada selurus jalan yang berduri,
putih-hitam ini, hingga pedangmu akan terpiuh
melawan kilau yang berkilat di mataku,
dan di antara dua pedang besi dan baja itu,
penempa yang berkeringat di jidatnya yang sujud,
sebelum menggapai cahaya yang menyala di gelap

di antara kesatria pedang dan petarung ulung,
yang di pinggang mereka terselip bait-bait jimat,
di pangkal ulu, yang diukir atas pinta seorang saleh,
bagai kata-kata dari moyangmu yang keramat,
seperti juga jubahmu yang ditiup peniup nafiri,
menelikung panjang di dengung nada yang sunyi

Baca juga:  Untuk Sebuah Roman Picisan

di antara kilat itulah, kupilih jalan yang berpilin,
jalan pedang penumpasan yang telah rapi tersusun,
ketika aku menebaskan pedangku ke ruas leher itu,
sebab sungguh, kelak kau akan mengigal laparmu,
dan bara birahi dari tengkarmu tak terlihat mata buta,
yang tersembunyi dalam pedangku yang bermata jilah,
tersimpan dalam lembar-lembar kitab perpustakaanmu,
di gelanggang padang yang mahaluas, yang telah dianjur,
di jalan pedang, yang datang dari moyangku, tepat di ulu.

Pekanbaru, 2015

Bunyi Pedang dan Janggut

setiap subuh, kau mendengar bunyi pedang,
yang diasah serupa suara seruling yang ditiup begitu pedih,
tapi kau menyukai nadanya, memerindingkan bulu kuduk kau kata

Baca juga:  Persiapan Memburu Begu - Begu dalam Kepalaku - Pedang dari Opung

setiap subuh, kau mendengar bunyi janggut,
yang menyapu tubir sajadahmu, serupa senandung masa kecilmu,
tapi kau tak menyukai iramanya, bagai gerbong kereta api yang berisik

setiap subuh, kau mendengar bunyi pedang,
macam suara lapar dari kemah penanggulangan bencana,
mendesak-desak seperti pengemis, merasuki mimpimu yang celaka

setiap subuh, kau mendengar bunyi janggut,
yang turun-naik dari si pelantun qari tetanggamu,
yang seharian bekerja sebagai penempa pedang, mengocok perasaanmu

setiap subuh, kau mendengar bunyi pedang dan janggut,
menyesak di gendang telingamu, mengiris-iris lembut,
serupa pedang maut, yang mencengkeram batang leher.

Baca juga:  Ujung Pedang - Orang Singkuang - Monolog

Pekanbaru, 2015






May Moon Nasution, lahir di Singkuang, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 2 Maret 1988. Alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru. 










Rujukan:
[1] Disalin dari karya May Moon Nasution
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 26 – 27 Maret 2016