Lukisan Cahaya – Lukisan Kota

Karya . Dikliping tanggal 13 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Lukisan Cahaya 

Dalam rantai cahaya, tubuhku seolah
dihancurkan
Hakekatku tersingkap sendiri dalam sepi yang
kian
Mengepung dan menubuh. Sunyi mengurai
hening
Jadi lelatu keabadian–memanjang menjadi
sungai
Resah. Meski tubuhku terbakar habis dan
mati ribuan
Kali–jiwaku tetap mengembara; sebab jati
diri adalah
Cahaya. Hati itu di isi, ibarat satu
pesanggrahan. Dari
Hati yang dibakar habis, tabunnya mampu
mencipta
Surga. Memperkecil langkah angan adalah
perkawinan
Dengan keabadian. Melangkah dengan
anggun–melipat
Dunia perlahan. Di lepas laut tanpa batas;
setiap penglihatan
Tentang keindahan memudar. Patah hati
terhadap dunia sirna.
Mendengarkan suara alam di sebalik dada;
gembira,
Sedih atau buruk–semua itu ayat Tuhan yang
paling
Rahasia–yang pasti berkunjung sampai batas
usia
Dan makrifat akan menyala dengan
sendirinya

2016


Lukisan Kota 

Di sebalik hutan beton dan baja
Yang tumbuh subur dengan tertata
Banyak rumah-rumah sederhana
Dengan penghuni rakyat jelata
Hidup dan kehidupan mereka termarginalkan
Pada data statistik; kehidupan mereka
dilaporkan
Sejahtera tak perlu ada campur tangan dari
penguasa
Padahal di setiap musim yang tiba; mereka
menderita.
Pada banyak nama, alamat, ruang dan
peristiwa
Saling membaca hati–selalu ada yang
jumawa
Banyak sudah yang tersakiti dalam detak
kecewa
Tapi waktu tak pernah bisa ditipu topeng
wibawa
Senja pun menjemput matahari bersama doa
dan gemintang
Kota melahirkan kata dan akulturasi budaya
yang singkang
Dalam sejengkal nikmat nyawa–lima waktu
tergelincir tiada
Kenangan mengental dalam cawan
perjamuan di sebalik dada
2016 



Lintang Ismaya, lahir di Tasikmalaya pada 1 Oktober 1979. Beberapa sajak karyanya suda menghiasi beberapa media nasional, seperti Pikiran Rakyat, majalah seni budaya Jurnal Sajak, Galamedia, dan Radar Tasikmalaya.Beberapa karyanya antara lain antologi bersama Orasi Kue Serabi (GKT, 2000), Poligami (SST, 2002), Bandung dalam Puisi (JNL, 2003), Sauk Seloko (PPN, 2012), Museum Pemabuk (Kelir, 2014). Pada 2015, terpilih oleh Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) sebagai wakil Indonesia dalam program penulisan sastra drama.

Baca juga:  Malaikat yang Menunggu

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lintang Ismaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 13 Maret 2016