Melipat Puisi – Enam Dikali Tiga Ratus Lima Hari – Binar Pagi – Kecambah – Putri LimaTahun

Karya . Dikliping tanggal 13 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Melipat Puisi

malam hari
aku melipat puisi jadi serpih
mungkin terasa sedih
tapi kalimat memutih
seperti helai uban di rambut
tak pernah selesai untuk direnggut
tak usai dipungut
masihkah engkau yang lalu?
bukan kelabu berdebu
atau bekas-bekas nisan kematian
atau uap amarah dari kepala pengembara
lelah berkisah tentang negeri
mengendap malam
puisi diam
aku melipatnya
mungkin masih ada pagi setelah ini
2011

Enam Dikali Tiga Ratus Lima Hari

                                                        – buat rina

enam dikali tiga ratus lima hari aku bersamamu
memang ada sedikit yang berubah
semacam uban yang tumbuh dikepala
atau kerut wajah
dan sesekali kita asing untuk berbicara
tapi engkau telah mengendap
mungkin di pangkal empeduku
yang selalu pahit kauisap
enam dikali tiga ratus lima hari
betapa aku tak kunjung sembuh
mengigil untuk menemuimu
memahamimu sampai ke sum-sum
dan segala sesal lambat laun kaupungut
dengan senyum
lalu kita berkisah tentang hujan yang turun
sepanjang hari
juga rutin candu yang tak lengkap
acap merambat di pangkal hari
di pangkal usia
dan sampai kini
birahiku padamu
selalu muda
enam dikali tiga ratus lima hari
mungkin di beberapa hari
ada nyeri yang hinggal di hati
semacam kita yang luput
untuk sekadar menjemput kangen
atau kenangan yang mendadak buram
diancam ketidakpercayaan
tapi di hari lainnya
engkau telah renggut kenangan itu
membingkainya di rumah atau ranjang
agar tak pernah retak
supaya tetap lengkap dan berpinak
2011

Binar Pagi

dan engkau sembul
seperti tunas daun hijau muda
di binar pagi
merayapi embun dingin
bergelayut di bekas hujan
matamu adalah kilat waktu
yang menujah tubuh
membelah akal dan rasa
tak bisa kurebut
sampai pagi benar-benar selesai
berdenyar
2011

Kecambah

apa yang kaukira telah tiada
sebenarnya ia cuma mati suri
kelak ia akan berkecambah
membelah tubuhnya
mungkin sesekali berkabar tentang ajal
dan sedikit tersengal
memanggul indungnya
lalu ia mengeras
tak pernah bisa kaucegah
seperti dirimu yang tak pernah usai
menguliti lelah demi lelah
2011

Putri LimaTahun

                                   – syifa

sudahlah putri kecilku, matikan televisi
jangan biarkan harimu bubar dengan sinetron
seharusnya engkau belajar berhitung
dan menabung ingatan tentang huruf
sungguh, aku rindu tulisanmu
yang gemetar membentuk kata ayah
seperti ingin terus kubaca engkau kembali
lima tahun yang lalu
juga seluruh tangisanmu yang berderai
sepanjang malam
menggoda tidurku
untuk minta susu
putri kecil
lima tahun sekarang
saatnya engkau menerjang
mewarnaimu gambarmu sendiri
dan menyimpannya untukku
2011
Alex R. Nainggolan, dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat di berbagai media. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum…(Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005), 5,9 Skala Ritcher (KSI & Bentang Pustaka, 2006). 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alex R. Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” Minggu 13 Maret 2016